Saya Bersuara Untuk Kampusku


Gak tahu ya, entah kenapa pas lewat Fisip tadi pagi langsung kesambet sama kata-kata yang bertuliskan dengan cat pilok di kantin Yong Ma, yang paling jelas “kami bukan sapi perahan” gitulah intinya. Tanpa berpikir panjang saya langsung ingat dengan isu kenaikan SPP/BOP UI beberapa saat lalu ketika saya dapat di kampus dari saudara Taufiq ’07.

Memang mendadak saya tahu begitu saja, tentu berkaitan juga dengan beasiswa bagi 1000 anak bangsa. Dan setelah membaca-membaca dan terus mencari, terlebih ketika mendapat tulisan di blognya Smile, rasanya jari ini ingin “unjuk kebolehan”. Langsung saja tulisan ini saya muat di blog SAMAN UI dengan berjudul “Kenaikan SPP/BOP Universitas Indonesia”. Jadi untuk itu saya copas sajalah, bila ada komentar dan segala macam silakan anda share bersama, berikut tulisannya:

Baru-baru ini banyak kalangan mendapat berita tentang isu kenaikan SPP untuk mahasiswa S1 reguler seluruh fakultas yang ada di UI. Tak heran bila ini menjadi polemik tersendiri bagi para mahasiswa terlebih mereka yang berkutat dengan aktivis kampus, tentu bisa anda bayangkan betapa susahnya masuk UI dari awal hingga saat ini.

Seperti yang kita tahu bersama, UI dan beberapa universitas negeri lainnya di Indonesia termasuk ITB, UGM dan IPB telah “menganut” paham BHMN. Dimana letak tanggung jawab yang tersirat sepenuhnya dikelola oleh PTN tersebut dengan persentase sekian-sekian. Hal utama yang bisa kita lihat adalah “pengkorbanan” stakeholder, stakeholder yang bagaimana? tentu peran akan mahasiswa dalam mengarungi pendidikan dengan mengutamakan sebuah kewajiban untuk membayar SPP/BOP atau sejenisnya menjadi sebuah hal yang utama bagi sebuah PTN untuk mendapatkan sumber pendapatan dana yang paling sangat gampang tentunya serta mahasiswa objeknya.

Lalu bagaimana stakeholder lainnya, selain para penuntut ilmu (mahasiswa, -red). Apakah para dosen, karyawan dan lain sebagainya hanya bisa bersenang-senang saja? Tentu jawabannya tidak (baca ini). Terlebih lagi para jajaran tingkat tinggi (rektorat, -red), tentu mereka lebih pusing dan kewalahan dalam mengatur ini semua dimana angka pengeluaran (operasional) yang dikeluarkan setiap waktunya tidak lebih dari pada keadaan yang tidak jelas (perekonomian yang tidak selalu imbang). Ini jelas terlihat bila PTN di Indonesia tidak lepas juga dari peran pemerintah dan seterusnya.

Namun satu hal yang harus disadari dari isu kenaikan ini adalah transparansi keuangan yang telah digunakan selama ini oleh jajaran tinggi universitas untuk memberikan respon ke pada seluruh civitas akademik, memang hal tersebut bukan merupakan jaminan pasti untuk diketahui oleh umum, melainkan bisa menjadi awal perumusan UI untuk menyikapi hal ini secara musyawarah dengan segenap elemen dan jajaran kampus. Sehingga cita-cita dan tujuan untuk menjadi universitas World Class, tidak hanya tertempel sebatas di poster atau spanduk saja melainkan bisa ikut dirasakan oleh semua pihak, baik warga kampus maupun masyarakat luar.

Baru-baru ini pun pihak rektorat kembali membuat sebuah kebijakan baru juga melalui bantuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI Departemen Adkesma untuk mensosialisasikan program beasiswa untuk 1000 anak bangsa dengan ketentuan dan syarat berlaku tentunya bagi siswa-siswi SMA yang ingin melanjutkan studinya di UI tahun 2008 nanti. Ini pun sebatas pandangan yang penulis dapat cukup bersifat mendadak setelah adanya isu dari kenaikan SPP tersebut. Secara tidak mendasar, ini merupakan hal konkrit bila sebenarnya apa yang telah “diusungkan” oleh pihak-pihak kampus untuk menaikkan SPP tidak berbuntut pada mahasiswa baru nantinya.

Bisa anda bayangkan dalam hal ini dengan menggempar 1000 anak bangsa yang ingin masuk UI sungguh sangat tidak bisa diterima begitu saja, walaupun kita berpikir bagus tetapi tidak salahnya ini akan berefek buruk di lain sisi. Pendapat berbagai kalangan disini tentu juga akan sangat berperan, bisa kah kita menilai dari MWA (Majelis Wali Amanat) yang sangat berpengaruh disini telah menyampaikan isi seluruh konsekuensi yang akan dihadapi untuk kedepan lebih jauh? menurut saya ini tidak mewakili atas semuanya, atas nama manusia selalu saja ada kata kekurangan.

Semoga kebijakan atas kebijakan yang diambil ini oleh pihak jajaran universitas tentunya tidak banyak pihak yang dirugikan atau saling merugikan terlebih bila ada yang bermain dibelakangnya ini adalah sebuah kecurangan. Kita semua mempunyai hak dan tuntutan seperti yang telah diamanatkan dalam undang-undang, setiap warga negara berhak atas pendidikan.

3 Responses

  1. gawat ya klo biaya kuliah disisni naek terus

    itu bukan lagi gawat, tapi harus ditambah dengan darurat –> “Gawat Darurat”

  2. memang sekarang orientasinya sudah beda mbak, dimulai pas saya masuk dulu..

    maaf saya bkn mbak, tp ….. Oiya orientasi bisa beda tergantung pimpinan atas. Namun kualitas dan kuantitas tentu harus tetap terjaga demi masyarakat kampus yang Madani

  3. Sudah semester berapa sekarang Bos..di UI

    MOGA SUKSES YA

    smster 7 boss, memasuki ke 8. Terima kasih atas do’anya🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: