Business Stakeholders


Pengertian Stakeholder dari beberapa pendapat yang ada dan masih banyak lainnya, seperti Bisset (Personal Communication, 1998) menyatakan bahwa stakeholder merupakan seseorang yang terlibat atau terkait serta mempunyai kepentingan untuk minat tertentu mengenai suatu hal yang harus dilakukannya. Sedangkan menurut Freeman (p.vi, 1984) menerangkan bahwa sebuah kelompok atau individu yang berpengaruh dan mempengaruhi dalam sebuah kerjasama untuk mencapai kesuksesan organisasi sesuai dengan kebutuhan yang berlaku.

Selain itu ada beberapa contoh yang mungkin berpotensi konflik dalam “Business Stakeholder” diantara beberapa komponen yang terdapat didalamnya, yakni : Owner, Creditor, Employees, Supliers dan Costumers. Berikut ini ilustrasi yang mungkin terjadi dari kelima komponen tersebut.

Potensi konflik antara Owner (pemilik perusahaan) dan Creditor (peminjam modal/dana). Hal yang paling besar kemungkinan terjadi yakni masalah kepercayaan (trust). Baik dari pihak Creditor ke Owner, maupun sebaiknya. Sebagai ilustrasinya ketika pihak Creditor memberikan modal/saham dengan sebuah ketentuan yang disepakati, namun karena sesuatu dan lain hal dipihak perusahaan terutama pemiliknya (Owner) tidak bisa menerima ketentuan tersebut dengan alasan pengembalian modal/saham yang telah diberikan oleh Creditor sudah tidak bisa berlaku lagi pada saat tersebut atau disebut kurangnya prinsipil dalam sebuah kesepakatan.

Potensi konflik antara Owner dan Employees (pegawai). Dalam hal ini sesuatu yang kecil bisa sangat besar kemungkinan terjadi, salah satu contoh saat pengambilan keputusan besar dalam pengelolaan aset yang seharusnya harus saling melibatkan pihak-pihak terkait, seperti pemilik perusahaan, direktur utama (CEO), manajer dan lain-lain sebagainya yang dianggap berpengaruh dalam suatu hal pengambilan keputusan tersebut. Kebiasaan yang sering timbul adalah interaksi dari setiap pihak yang tidak saling menguntungkan baik halnya dalam pengambilan keputusan yang sudah dijalani lebih awal yang mengeluarkan modal yang begitu banyak maupun dalam pengambilan keputusan untuk waktu-waktu selanjutnya yang memakai modal relatif lebih hemat tentunya dalam batasan (scope) yang sama.

Potensi konflik antara Employees (pegawai) dengan Supliers (penyedia jasa/barang). Kalau potensi dalam hal ini, tentunya bagi perusahaan-perusahaan menengah ke atas sangat sering terjadi dalam melakukan sebuah kegiatan open tender khususnya untuk proyek-proyek tertentu yang membutuhkan jasa maupun barang dari pihak supliers (penyedia). Dan potensi kuat dalam hal ini adalah tentang kepuasan (satify) bagi pihak perusahaan baik dari penyediaan jasa, barang atau sebagainya. Faktor inilah yang membuat banyak pihak pertama/employees yang memutuskan hubungan kerja (relationship/sponsoship) karena tidak terjadi timbal balik yang saling menguntungkan diantara dua pihak malah merugikan pihak salah satunya atau pun sebaliknya.

Potensi konflik antara Supliers (penyedia jasa/barang) dengan Costumers (konsumen). Untuk yang ini, memang sering tidak bergitu terlihat secara nyata oleh para employees (pegawai) terhadap akses yang dilakukan dilapangan. Kebiasaan buruk yang sering mengalami pihak konsumen adalah lambatnya penyediaan barang/stok seperti halnya bagi perusahaan yang menghasilkan produk berupa barang yang harus dipasok dan didistribusikan bagi pihak konsumen. Sehingga sering terdengar isu penimbunan barang yang diakibatkan ulah dari supliers ke costumers.

Potensi konflik antara Employees (pegawai) dan Creditor (peminjam modal/dana). Yang ini akan sedikit sama halnya dengan apa yang terjadi dengan owner dari sebuah perusahaan dengan pihak creditor, hanya saja tingkat kesulitan yang dialami oleh employees lebih kecil sebagai karena menjadi kelanjutan dari hubungan yang telah owner bina sebelumnya dengan creditor diawal pendirian perusahaan misalnya. Sebagai contoh ketika awal adanya perusahaan ada sebagian creditor yang memberikan modalnya untuk kelangsungan sebuah organisasi tentunya melalui pihak owner sebagai bagian tertinggi dari sebuah perusahaan, namun setelah perusahaan berdiri dan mencapai masa-masa perkembangan, secara tidak langsung owner menyerahkan sepenuhnya kelangsungan tersebut kepada employees (CEO atau Manajer). Inilah yang menjadi konflik bila sebagian CEO tidak memiliki kemantapan interaksi dengan pihak creditor baik dari akuntabilitas yang mulai menurun bahkan transparansi dalam hal pembagian profit bahkan ini juga bisa terjadi sebaliknya dari pihak creditor kepada employees.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: