Malu Bertanya Sesat Di Jalan


Suatu hari ingin melihat dunia politik, dan ternyata terbawa ke sebuah tulisan editorial. Dimana judulnya sangat mengesankan “PKS Dipersimpangan Jalan?“. Heran seribu tanya kenapa PKS kok bisa nyasar di Jalan, berikut petikan penuh isi editorialnya yang diambil dari Blog Harian Aceh.

PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) kini membuat kejutan baru di tengah isu pluralisme yang kini sedang melanda kehidupan beragama dan politik anak negeri ini. Berita Harian ini kemarin menyatakan, PKS siap menerima calon nonmuslim untuk dijadikan anggota DPR. Hal itu merupakan konsistensi atas keterbukaan partai politik itu.
Selain itu, PKS juga menyatakan siap berkoalisasi dengan partai apapun dan lembaga apapun. Pernyataan ini disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Fahri Hamzah di Jakarta (Harian Aceh, Senin 4/1-08).
Bila kerja sama pencalonan dengan nonkader PKS dalam pemilihan kepala daerah, sudah sering kita saksikan. Betapa PKS yang mungkin miskin dana itu tidak mampu mengusung kadernya sebagai kepala daerah.
Untuk DKI Jakarta saja, ia bergandengan tangan dengan oknum pensiunan Wakapolri Adang Darajatun yang dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Di Aceh, sebelumnya, PKS bergandengan tangan dengan Azwar Abubakar dalam pencalonan gubernur. PKS menempatkan Nasir Jamil. Kedua calon itu kalah dalam pilkada.
Menggandeng calon nonpartai sebagai kandidat gubernur atau wakil juga untuk calon kepala daerah kabupaten dan kota masih dianggap wajar. Ada kepentingan politik praktis di sini. Ada upaya memadukan dua kekuatan berbeda menjadi satu kekuatan yang padu. Partai tidak terusik.
Namun, apa yang dilakukan hari ini? Menerima calon nonmuslim sebagai caleg di DPR RI tampaknya perlu uji sahih. Apabila idiologi oriented sudah ditinggalkan, sebaiknya penganut doktrin Hasan Al Banna dari Mesir itu sudah boleh mencukur klimis jenggotnya. Hal ini karena jenggot kader-kader PKS dikenal sebagai jenggot idiologis, bukan jenggot asesoris!
Sejak awal kita sudah mencium gebrakan politik PKS akan menjurus ke prakmatisme pluralis. Partai ini memang tidak berkutat untuk misalnya memperjuangkan Syariat Islam, sebagaimana yang pernah diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tidak mengusung Piagam Jakarta sebagaimana Partai Bintang Bulan (PBB) saat tampil perdana.
Tentu saja gaung keterbukaan itu disambut baik kalangan pluralisme dan tokoh-tokoh agama nonmuslim. Jadi, tidak heran bila kita mendengar komentar bila ada tokoh Hindu Bali di Denpasar mengatakan bahwa PKS sudah sejak lama menjadi partai terbuka.
Bukan ingin menyandingkan PKS dengan PKI. Namun, ada sisi yang patut kita lihat kedua partai dalam hal rekrutmen kadernya. PKI kita ketahui memang amat solid dalam penggalangan kader, rekrutman anggota, mendinamisasikan motor partai berupa roda organisasi. Apakah cara kelihaian tersebut yang hendak dimainkan PKS?
Kita sedang dihadapi dengan istilah baru tentang ini. Pengembangan anggota dengan sistem marketing multi level. Setiap anggota diwajibkan mencari tiga orang calon anggota. Begitu seterusnya. Anak-anak muda kader partai ini bekerja dengan penuh semangat juang. Kita salut kepada kader-kader militam yang tanpa pamrih ini.
Apabila kaderisasi bercampur aduk dengan pemeluk lain agama, pasti akan terjadi pelunturan ideologi. Kaidah-kaidah kejuangan mujahid Islam Hasan Albanna tak lagi kuat pancarannya dalam kancah politik. Miriplah dengan PDIP yang menghilangkan ideologi marhaenisme dan Soekarnois dalam kancah perpolitikannya.
Semua ini terpulang kepada PKS. Masyarakat jelasnya menginginkan ada partai Islam yang kuat. Baik kuat ideologi, organisasi, maupun dananya. Masalah dana pulalah yang memancing PKS membuka dirinya. Kader-kader handalnya belum bisa tampil sebagai calon kuat Gubernur DKI Jakarta. Bila punya dana, Tifatul Sembiring yang Presiden PKS pasti dicalonkan sebagai Gubernur Jakarta.
Pemikiran meliberalkan PKS sebagai partai terbuka sebaiknya dikaji kembali secara matang. Apa saja saja kerugiannya, baik secara ideologis maupun massa aksi. Adakah PKS kini dipersimpangan jalan? Sejarah dan keadaanlah yang akan menjawabnya nanti.[]

Ternyata setelah saya cerna tanpa rasa sembelit, kini jelas sudah akan sebuah pikiran dari partai politik ini. Kesesatan jalan PKS karena pengaruh dunia……

4 Responses

  1. […] Malu Bertanya Sesat Di Jalan […]

  2. MasyaAlloh ,, itulah demokrasi jika kita mengikutinya bahkan sampai lubang semutpun kita akan mengekor terus…PKS hmm no comment

    PKS, waduh mas ketika anda berkata no comment saya tersipu nih!

  3. […] FIFA, JakMania, Kematian, Persija, Persipura Jayapura, PSMS Medan, PSSI « Tantangan Awal Kuliah Malu Bertanya Sesat Di Jalan […]

  4. Akar-akar ideologi PKS belum cukup kuat mencakar bumi partai ini hanya berorientasi mencari jumlah massa para elite nya lebih sibuk ber retorika dg membentuk opini publik bhwa inilah partai islam yg mutakhir yg jujur bebas korupsi . Tidak punya misi yg jelas.skr muncul wacana mau ganti ideologi dg tujuan menarik massa.mungkin judul yg pas adlh ‘malu bertanya sesat di dunia dan akhirat. Kita lihat saja nanti

    Waktu akan membuktikannya mas, mari kita lihat saja nanti….

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: