• Kicauan Terakhir

    • RT @ompian: Melek internet rupanya tak terbatas bagi penderita gangguan jiwa, paket internet lebih penting daripada makan, katanya. 7 hours ago
    • RT @iloveaceh: Gajah Sumatera yang hidup di Hutan Leuser, merupakan Satwa yang harus dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya #CareLeus7 hours ago
  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Mesin oven on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on The Light of Aceh – Caha…
    mengejarmimp1 on The Light of Aceh – Caha…
    androidtechnicia on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Safprada on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Rapa’i, Milik Malaysia Tapi Punya Aceh


Permainan Rapai AcehMAIN-main di harian-aceh.com dapat berita kayak gini dengan Judul “Rapa’i Milik Aceh, Bukan Malaysia”. Langsung saja menarik perhatian saya selaku orang/aneuk Nanggroe, karena ada perasaan takut. Takutnya apa? karena seperti postingan sebelumnya (Malaysia vs Indonesia) ada pihak lainnya (OTK – Orang Taik Kucing) yang akan membuat blog seperti I Hate Indon (BPB – Blog Provokasi Bangsa) dan ujung-ujungnya mungkin akan ditambah menjadi I Hate Aceh, gawat dong.

Tapi insyaAllah akan diminimalisir hal-hal seperti ini. Berikut kilasan beritanya:

Seniman Aceh, L.K. Ara merasa keberatan jika Malaysia menyebut kesenian Rapa’i dan Serunei Kale adalah miliknya. “Rapa’i dan Serunei Kale itu sudah lahir di Aceh sejak puluhan abad yang lalu. Mana boleh hasil karya orang Aceh dijadikan milik orang lain ?” kata Ara kepada Harian Aceh, Jumat (14/12).

Dia mengatakan, sejauh ini kesenian Aceh banyak dimainkan di seluruh pelosok dunia, termasuk Malaysia seperti tarian Saman. Tapi yang memainkan itu tetap pakar-pakar keseniaan Aceh, walaupun di negara orang,” tuturnya.

Ara menjelaskan, sejak zaman dulu banyak pakar kesenian Aceh yang diminta oleh Malaysia untuk tampil pada acara resmi mereka. Malah Pemerintah Malaysia sempat meminta pakar-pakar kesenian Aceh untuk mengajari kesenian Aceh di nagara mereka. “Sejak zaman dulu memang banyak seniman asal Aceh yang merantau ke Malaka dan mereka menetap di sana. Mungkin itu salah satu sebab mereka mengakui Rapa’i dan Serunei Kale milik mereka,” tambahnya.

Ara mengingatkan, bila Malaysia sampai mengklaim bahwa Rapa’i dan Serunei Kale milik mereka, maka seniman Aceh akan mengadu ke pemerintah. “Kami tidak akan tinggal diam,” tandasnya.

Dia berharap Pemerintah Indonesia proaktif dalam membangkitkan kesenian di negerinya. “Pemerintah RI sejak zaman dulu memang kurang peduli terhadap kesenian di tanah airnya,” katanya.

Sementara mantan Ketua Dewan Kesenian Aceh, AA Manggeng, mengatakan, sejuah ini dirinya belum tahu tentang klaim Malaysia terhadap Rapa’i dan Serunei Kale milik mereka. “Saya sering pulang pergi Aceh–Malaysia, tapi pakar kesenian Malaysia seperti Prof Ismail Husen, Siti Jainul Ismail dan banyak teman-teman di sana tidak pernah mengakui kesenian itu milik mereka,” ujarnya.

Manggeng menambahkan, bila memang Malaysia mengatakan seperti itu, semua pihak jangan gegabah dulu. “Kita harus selidiki dulu,” pintanya.

Dalam nada yang hampir dikatakan Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, Zulfikar Sawang. “Sejauh ini Aceh belum pernah mendaftar bahwa Rapa’i dan Serunei Kale itu milik Aceh. Jadi, bila ada negara lain mengatakan itu milik mereka, kita jangan dulu memvonis mereka. Mari kita selidiki dulu, karena kesenian yang ada di dunia hampir sama permainannya namun berbeda namanya,” katanya.

Beberapa hari lalu salah satu seniman debus Aceh, Yun Cassalona mengungkapkan bahwa Rapa’i dan Serunei Kale telah jadi milik negeri jiran itu.

“Saya kebetulan diundang dalam acara kesenian di Malaysia. Pada acara pembukaan, tamu-tamu dihibur dengan tari-tarian dan beragam kesenian Malaysia. Biasalah, seperti acara-acara kesenian di daerah kita juga, penyambutan tamu kan sering dilakukan dengan tari-tarian. Tapi, anehnya, di sana saya melihat ada yang memainkan Rapa’i dan Serunei Kale. Pukulan Rapa’i dan tiupan Serunei Kale mereka sangat mirip dengan yang ada di Aceh. Saya bertanya kepada teman yang mengundang saya. Siapa yang memainkan Rapa’i dan Serunei Kale itu. Jawaban teman saya, orang Malaysia,” kisah Yun.

Itulah berita yang ada, namun kita lihat saja hasilnya untuk mendatang. Bila Indonesia telah berani macam-macam, apalagi dengan Aceh ya.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: