Mahasiswa Yang Terlupakan Oleh Masa


Melihat pergerakan mahasiswa baik dari berbagai tulisan, artikel maupun kenyataan dalam kehidupan ini terasa mahasiswa adalah salah satu bagian yang terus “menggrogoti” kehidupan bangsa ini, tidak mengenal kondisi terlebih dalam hal yang menyangkut hak hidup orang banyak tentunya rakyat bangsa tercinta ini. Agent of change dan juga stakeholder merupakan bagian besar dari status kehidupan mahasiswa dalam melakukan perubahan di tanah air Indonesia ini, segala pertarungan dan pembelaan untuk bangsa mereka tumpu dan menjadikan diri sebagian besar sebagai corong bagi mereka kaum awam, yang lemah dan tertindas dalam angkat bicara untuk publik.

Lalu mengapa pergerakan mahasiswa begitu banyak bermunculan dengan berbagai aspirasi yang disongsong, mulai dari perkumpulan atau komunitas serta organisasi tingkat kecamatan, kabupaten sampai organisasi-organisasi yang benar-benar ternama di tingkat nasional maupun dunia internasional. Berbagai persepsi dan pandangan dari pergerakan mahasiswa ini terutama menjurus dalam segala bidang termasuk perjuangan untuk membela kebenaran maupun kebebasan dalam bentuk apapun yang dianggap bertentangan dengan norma-norma dan ketentuan-ketentuan hukum yang ada. Namun, patut diakui tidak selamanya suara mahasiswa dalam sebuah komunitas dan organisasi selalu serentak dan sama, bahkan lebih dari itu timbul berbagai paham sampai ketujuan dan haluan yang saling bertentangan seperti bermunculannya haluan “kiri” maupun “kanan”. Disini adalah sebuah titik temu yang biasanya membuat pemerintah menjadikan para mahasiswa sebagai “musuh buyuyutan” dalam menjalankan roda pemerintahan, dimana segi hal yang sangat kecil mahasiswa pun ikut mengkritisinya. Namun, dalam tulisan ini penulis tidak bertujuan untuk menjelaskan siapa sebenarnya sosok mahasiswa itu sendiri, melainkan ingin melihat sejauh mana kepedulian masyarakat untuk golongan mayoritas yang berlabelkan mahasiswa baik dalam kondisi dan situasi apapun di dunia ini terutama untuk rakyat Aceh sendiri yang ingin perubahan dan pembangunan di era kepemimpinan yang berjalan demokrasi seperti saat ini.

Terbentuknya berbagai organisasi maupun dan perkumpulan mahasiswa tidak terlepas dari sebatas dorongan beberapa orang saja (penggagas, pen) namun juga tidak menutup kemungkinan hanya sekedar memperjuangkan visi dan misi yang mereka elu-elukan untuk lebih terkordinasi dengan baik sehingga terciptanya sebuah wadah yang membuat mereka untuk leluasa memberikan suara dan pemikiran dalam menunjukkan fungsi mereka sendiri sebagai mahasiswa yang penuh dengan pembaruan untuk bangsa. Lebih dari itu lagi, bila kita lihat secara seksama banyak pergerakan mahasiswa yang luput dan hilang begitu saja tanpa ada kelanjutan dari regenerasi. Regenerasi atau diistilahkan dengan pengkaderan anggota baru merupakan salah satu cara bagi sebuah organisasi atau komunitas untuk bisa terus ada dipermukaan kancah dunia yang penuh tantangan seperti bangsa Indonesia ini. Bermunculannya organisasi di dunia mahasiswa yang ada tidak bedanya dengan terbentuknya berbagai partai politik di Indonesia, aliansi Islam, nasionalis bahkan sampai ke aliansi yang spesifik sekalipun.

Penulis sendiri, sebagai mantan ketua umum dari komunitas mahasiswa Aceh di Universitas Indonesia, ikut merasa sangat raib dari dukungan pihak-pihak yang patutnya memberikan sebuah dorongan maupun secerca harapan untuk bisa terus eksis dalam membangun Nanggroe terutama pemerintah daerah. Ini patut diakui, karena keberadaan komunitas maupun organisasi independen atau banyak disebut sebagai organda (organisasi kedaerahan) seperti ini sangatlah terkekang dengan sebuah polemik baik untuk pemberdayaan SDM yang ada maupun keterbatasan finansial yang bisa diberikan dalam melakukan sebuah kinerja yang nyata di lapangan. Tidak jarang pula, organda Aceh yang didalamnya terdiri penuh oleh banyak kalangan mahasiswa maupun aktivis di berbagai kota besar di Indonesia terlebih di luar Sumatera sungguh sangat terasa diasingkan oleh pemerintah daerah dalam melibatkan mereka untuk pembangunan Aceh dalam hampir semua sektor. Banyaknya kemunculan organda di Indonesia tidak lepas biasanya dari adanya sebuah masalah yang terjangkit di daerah tersebut maupun kemunculan karena sebuah harapan dari para mahasiswa tersendiri untuk memberikan yang terbaik buat masyarakatnya sendiri. Berbagai kasus yang terjadi di daerah baik itu berkaitan dengan HAM, politik, hukum, pendidikan bahkan sosial menjadikan organda tidak pernah diam untuk bisa memberikan kontribusinya. Namun, yang terjadi sekarang malah mereka terlupakan begitu saja oleh masa yang sudah berlalu. Banyak sekali bermunculan perkumpulan, organisasi dan juga komunitas daerah di luar Aceh hanya sebagai pendorong untuk ikut serta memberikan ide dan pemikiran bagi pemerintah itu sendiri. Masalah di “anak tirikan” juga sangat constrain bila melihat lebih jauh kehidupan para organda yang ada. Contoh kecil seperti penyedian fasilitas kesejahteraan mahasiswa daerah di berbagai kota sampai ke kampus-kampus bisa sangat terlihat, apalagi bila alumni mereka hasil jebolan perguruan tinggi tersebut. Sarana dan prasarana membuat mereka tentunya lebih care dengan orang-orang itu saja, terlebih dari itu mereka memang sangat mudah untuk melakukan berbagai kegiatan dengan adanya perhatian penuh dari pihak yang ada.

Tetapi sungguh sangat disayangkan bila ada potensi itu, yang tidak tersentuk oleh pihak yang berwenang untuk bisa diikut sejahterakan dengan baik dan dibekali dengan sarana yang ada. Apalagi mereka juga bukan orang-orang sembarangan yang hanya ingin meminta saja, keberhasilan yang ada dari banyak komunitas juga bisa ikut dibanggakan. Kembali lagi disinilah kita melihat pergerakan mahasiswa khususnya untuk sebuah komunitas dan organisasi kedaerahan yang kadang-kadang bangkit sekedar menuntut kelayakan untuk diperhatikan dan setelah itu berjalan apa adanya ibarat kata “kah keudroe long keudroe” (kamu sendiri, saya sendiri).

Harapan memang terus mereka perjuangkan untuk bisa terus hidup dan terus membenahi diri, tidak peduli akan goncangan yang bisa merubuhkan. Namun, disini yang sangat diharapkan adalah sebuah kepercayaan semua pihak yang bisa memberikan sokongan serta menjadikan organda sebagai partner untuk melakukan pembangunan tentunya dalam hal-hal yang bisa menjadikan pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat untuk bisa lebih baik kedepannya.

One Response

  1. salam kenal

    salam kenal juga buat orang bugis

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: