Dunia Pendidikan NAD


Dunia pendidikan ditingkat sekolah menengah atas (SMA) adalah sebuah tahap dimana masa kesenjangan atau disebut waktu transisi antara perilaku seorang remaja menghadapi masa puberitas dan masa kedewasaanya sedang berlangsung. Selain itu pula institusi pendidikan yang sangat memberikan peluang dan peran penuh dalam mengantarkan seorang siswa untuk berpikir kreatif adalah ditingkat SMA atau sekolah sederajat lainnya.

Melihat sisi pendidikan di bumi Nanggroe Aceh Darussalam beberapa tahun belakangan ini patuh berikan jempol, selain dengan ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang kian mendukung dan memadai diberbagai sekolah, mulai penuh dengan rehabilitasi baik dari segi manajemen pendidikan yang disebut kurikulum sampai fasilitas (bangunan/gedung) pendukung lainnya yang dianggap bisa menunjangkan kreativitas dari peserta didik yakni mereka para siswa. Banyak SMA di ibukota provinsi Aceh seperti SMA Negeri 2 Modal Bangsa yang telah memangku predikat sebagai sekolah favorit di daerah tersebut sejak dari awal berdirinya, kemudian juga SMA Negeri 10 Fajar Harapan yang kini telah mulai menunjukkan eksistensinya juga semakin meraih peluang dimata masyarakat dan masih banyak sekolah-sekolah lainnya termasuk Madrasah Aliyah juga, namun rata-rata sekolah yang dianggap memiliki mutu dan kualitas yang pas dari kebanyakan orang tua atau siswa menilainya adalah sekolah yang semi pesantren (pedidikan umum dan pendidikan agama) dengan berbekal fasilitas untuk diasramakan yang sebagian besar ditanggung semua oleh pihak sekolah, walaupun biaya untuk pendidikan seperti itu agak relatif sedikit mahal tapi justru diharapkan bisa membuahkan hasil yang memuaskan pula.

Pasca tsunami di kota Banda Aceh sendiri, berbagai sekolah mulai dibangun kembali setelah sedikit banyaknya yang hancur akibat gempa Desember 2004 kian terasa perkembangan fisiknya, selain itu berbagai negara donor pun ikut pula membangun sekolah tersendiri walaupun menyandang status swasta karena seperti kita tahu di kebanyakan sekolah yang berstatus swasta di Aceh tidak begitu banyak digandrungi oleh siswa maupun dari orang tua sendiri, namun sekarang hal itu mengatakan lain sebut saja seperti Yayasan Fatih Bilingual School. Sekolah yang menampung siswa tingkat SMP dan SMA ini didonasi penuh oleh negara Turki bekerjasama dengan pemerintah NAD awal-awal keberadaannya di Banda Aceh sudah mulai diincar oleh siswa pada umumnya. Sekolah maupun yayasan seperti Fatih ini pun sangat mengimbangi dengan sekolah-sekolah favorit negeri lainnya. Memang biaya pendidikan yang berstatuskan swasta terhitung sangat mahal sampai 10 juta per semester, kendati seperti ini tidak membuat para orang tua wali merasa rugi untuk memasukkan anaknya. Buktinya semua sarana yang dikemas dalam mess atau asrama sampai kesemuanya telah tersedia, jadi tidak ada fasilitas yang dianggap kurang.

Menjamurnya sekolah-sekolah yang mulai memberlakukan keasramaan (mess) telah membuktikan bahwa anak-anak didiknya bisa lebih memiliki nilai tambah tersendiri, selain itu wawasan dan pengalaman yang luar biasa pun bisa mereka rasakan misalkan saja ketika ada momen penting olimpiade baik nasional maupun internasional bisa mereka nikmati untuk membuktikan ketatnya persaingan dalam dunia pendidikan.

Lalu bagaimana dengan nasib SMA-SMA umum yang biasa, seperti yang banyak kita temui diseluruh pelosok tanah air Indonesia, apakah prestasi mereka tidak seperti SMA-SMA diceritakan sebelumnya. Tentunya tidak kalah juga bahkan jelas sekolah-sekolah yang biasa ini pun tidak sedikit siswanya yang bisa lolos ke luar baik ketingkat nasional maupun internasional terutama bisa kita lihat saat mereka untuk melanjutkan ke perguruan tinggi favorit.

Melihat dunia pendidikan yang ada di Aceh seperti saat ini memang berkesan sudah mulai meningkat dari tahun ke tahun apalagi setelah pasca gempa dan tsunami. Bahkan berbagai gedung sekolah yang hancur ketika tsunami kini telah disulap menjadi sekolah yang mewah dan tertata rapi. Di Lampineung contohnya, SMA Negeri 4 Banda Aceh yang ketika musibah hampir semua gedung hancur diterjang ombak dan gempa kini telah menjadi megah dan mewah sampai-sampai menjadi julukan “SMA DKI Jakarta”. Memang musibah tsunami telah memberi arti penuh bagi segenap institusi pendidikan khususnya SMA di Aceh. Selain itu juga kita patut melihat dan menilai lebih lanjut sebagaimana mutu dan kualitas yang ada sekarang ini, karena meningkat atau tidaknya sebuah generasi didik terlihat dari ketrampilan dan skill apa yang bisa mereka berikan atau peroleh dari tempat mengecapnya, salah satunya untuk dunia perguruan tinggi (perkuliahan) nantinya.

Dari sisi inilah butuhnya arahan dan bimbingan dari semua elemen pendidikan untuk bisa mengawasi mereka agar bisa terus bersaing di tingkat lebih tinggi, sehingga jangan sampai ada peserta didik yang mempunyai kecakapan dalam berpikir (intelligence) dan soft skill yang tinggi terputus dari pendidikan perguruan tinggi akibat keterbatasan dana, walhasil mengakibatkan mereka menjadi pengangguran belia diusia yang relatif muda. Selain itu pula peran serta dari pemerintah sendiri juga sangat mendukung untuk hal-hal seperti yang disebut di atas tadi, karena anggaran pendidikan untuk daerah yang otsus (otonomi khusus) seperti Aceh tentunya mengalir banyak dari berbagai sumber SDA yang didapat di daerah. Baik itu dalam bentuk beasiswa maupun dalam bentuk kegiatan dan program lainnya. Hanya tinggal masyarakat sendiri untuk mengawasi hal tersebut agar bisa tercapai sebagaimana visi dan misi Aceh sendiri di bawah kendali Pemerintah Irwandi dan Nazar dalam menghadapi era pembangunan dan perubahan selama 5 tahun mendatang. Semoga waktu dan kerja keras dari semua yang diharapkan bisa ikut dirasakan oleh semua rakyat termasuk pula bagi mereka kaum akademisi.

2 Responses

  1. baru saja pendidikan kita diteror. pergantian kurikulum dan pemberhentian secara mendadak yg mengingat K-13 mmg terlalu memaksa untuk diterapkan di Indonesia. Semoga saja dengan kembalinya kurikulum lama dapat mengubah dunia pendidikan indonesia menjadi lebih baik… amiiin

    • Amin, kita harap demikian. Semoga dilima tahun mendatang pendidikan kita tidak dalam status “kegalauan” lagi, sudah cukup.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: