AADC’s


Ada Apa Dengan CS [Computer Science]

Baru dua minggu lebih kuliah di Fasilkom, ternyata banyak perubahan yang berarti. Mulai dari para program kuliah baru, wajah baru, keluarga baru dan “tampilan-tampilan” lainnya yang berbeda walaupun tidak semua. Dua minggu lebih juga masa bimbingan di Fasilkom telah berlalu atau dikenal dengan OKK (Orientasi Kehidupan Kampus) tingkat universitas, kemuadian PSAU serta Mabim (Masa bimbingan) yang dikhususkan untuk para Maba 2007. Dalam mengenal lingkungan baru mereka didik langsung oleh para senior, walaupun banyak pandangan berbeda tradisi tetapi hal ini masih tetap dilaksanakan dengan berbagai macam revolusi.

Sedikit intermezzo kenapa saya menulis hal seperti ini, sebenarnya ada sesuatu yang menginspirasikan. Karena bila menulis tanpa ada sesuatu pendukung atau faktor, kemungkinan ini tulisan tidak bisa keluar dari kepala. Namanya juga hak untuk “ngomong” adalah hak semua rakyat baik jelata, tua, muda hingga kaya raya. Memang bila anak cs sering aktif di scele terutama di thread forum umum dan lainnya sebagainya, baru-baru ini sempat “memanas” suasana. Ada apa sih dengan forum umum? Kok bisa “memanas”, ternyata ada udang dibalik layar. Lalu ada apa dengan cs hingga suasana tersebut bisa menjadi atmosfir baru di lingkungan cs. Komunitas atau akrab dengan sebuah kekeluargaan memang patut diakui itu merupakan sebuah hal yang harus ada dalam lingkungan dengan bernuansa institusi pendidikan maupun lainnya. Fasilkom yang lingkungan relatif kecil, kekeluargaan yang ada antar sesama elemen (dosen, staf, mahasiswa, kantin, satpam) tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi antara satu dan lain hal.

Kembali menguak cerita AADC’s, sempat terbaca maupun terdengar bahwa kondisi keluarga baru di Fasilkom belakangan ini tidak etis sebagaimana biasa seperti tahun-tahun yang lalu. What wrong? ternyata di forum umum scele, perdebatan opini kian memancang qoute for emotions. Mulai dari dosen sampai mahasiswa yang paling utama kian menggencar ide-idenya. Apalagi bila melihat sebuah judul thread yang berjudul “Tidak Puas” ternyata kekayaan intelektual yang dimiliki anak cs di coba dengan isu “basi” dari jaman “baholak”. Baholak???? Ya itulah yang menjadi pemicu utama topik pada saat itu sehingga merembah ke isu-isu lainnya yang bisa dibilang menurut saya menjadi OOT (Out Of Topic). Toh mengapa itu isu bisa menjadi hot “infotainedu”? karena tidak hanya dengan thread tersebut, hingga saat ini keluar thread baru yang berjudul “Sopan Santun” ternyata antusiame para Fasilkomers makin kian gencar. Lihat saja beberapa hari ini realitas tersebut menjadi hot pembicaraan dalam forum umum secele (sekecil lele…hahaha) dihangatkan. Memang itu adalah hal wajar yang dilakukan oleh mahasiswa maupun dosen karena menyangkut kehidupan berkeluarga di Fasilkom. Namun, ada sesuatu hal yang terjadi dengan munjulnya dua judul tersebut “Tidak Puas” dan “Sopan Santun”, beberapa golongan seakan-akan “disisihkan” dari komunitas yang ada. Kata-kata penyisihan disini bisa anda artikan sendiri, berpikir kritis dan tidak memojokkan satu pihak.

Panitia Pembinaan Mahasiswa Baru atau kerap dipanggil panitia PMB adalah salah satu pihak yang berperan dalam mendidik para keluarga baru tersebut. Berhasil atau tidaknya mereka untuk mendidik para keluarga bari bisa terlihat dari kehidupan yang ada, tapi ingat panitia juga manusia punya dosa dan punya malu tanpa dukungan pihak lainnya tentunya bisa terjadi efek yang nihil. Sempat bicara dengan seseorang yang mungkin kita semua sudah mengenalnya yang selalu setia dengan waktunya untuk kita dalam kuliah, beliau mengatakan bahwa untuk interaksi antara keluarga baru dan para keluarga lama sangat terlihat kurang terlebih dalam menegur sapa layaknya memberi hormat kepada yang tua dan menyayangi yang lebih muda. Lain dari itu juga sangat terlihat tingkah laku yang masih minimali untuk bersikap dan bertingkah laku. Kemudian juga dari paparan beliau terlihat bahwa angka kedekatan dengan mereka sangat minim, pokoknya bisa terhitung dengan sebelah jari tangan. Kita sadar bahwa dua minggu itu memang waktu yang singkat untuk mengevaluasi sebuah rasa sosial yang ada dilingkungan pendidikan ini, namun dari sini kita bisa menilai bahwa ketergantungan dianggap tereliminasi dari kehidupan para keluarga baru. Memang sedih bila kita mendengar hal itu, namun patutkah kesedihan itu larut dan hanya diam begitu saja. Tentu jawabnya tidak, kalau memang kita ingin perubahan yang berarti untuk lingkungan sebuah komunitas. Capek  deh nulisnya…..dengan demikian saya akhiri dulu.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: