Syariat Islam di Negeri Serambi Mekkah


syariat islam

Ilustrasi: acehdesain.wordpress.com

ENTAH apa yang terpikirkan atau terbayangkan oleh mereka atau pun Anda yang menonton tayangan ditelevisi saat Aceh disorot dari Syariat Islam, Gempa dan Tsunami, Ganja atau pun lainnya.

Tentu beragam perasaan dan hayalan tentang “kekejaman”, kesedihan, kemegahan si daun jari menjadi satu yang kadang sulit dipisahkan.

Tapi apa daya saat syariat disorot, berbagai media di dunia nyata atau maya kian kepincut. Tentu ini adalah bahan lama alias cerita klasik (hangat-hangat kuku kalau tidak mau dibilang taik ayam), saat diangkat semua terbakar emosi, sibuk membicarakan, bahkan menuduh tanpa alasan dan paling parah menodai sampai ke arah SARA, yakni agama rahmatan lil’alamin.

Sungguh sedih, saat membaca beragam suara warga yang mungkin terwakilkan lewat twitter yang sangat mengiris hati atau mereka yang berbicara tanpa ada hati mungkin. Continue reading

Siap Jadi Ibu Sebelum Siap Jadi Istri


ibu

ilustrasi by hdmessa.wordpress.com

ANEH mungkin, jika bagi seorang laki-laki dalam memaknai bahwa seorang wanita telah siap menjadi seorang Ibu, padalah dia belum menjadi seorang istri. Malah sekarang ini banyak wanita setelah siap menjadi istri belum siap menjadi ibu untuk kedepannya.

Ini adalah kisah yang sebenarnya ada disekitar kita, dan bahkan mereka para sesamanya (wanita, -pen) juga mungkin luput dari perhatiaan kaumnya sendiri.

Hmmm, kenapa saya terpikir dengan hal yang kecil ini? awalnya hanya sebuah pertanyaan biasa. Setelah saya mengingat ulasan-ulasan dari komentar orang-orang yang pernah mengunjungi blog saya, lalu terpikir dengan secuil ide itu bisa ada bila kita mampu untuk menulisnya dan memberikan atau sekedar membagi kepada orang lain supaya sejarah itu tidak lepas begitu saja. Continue reading

Wahai Para Gadis


Hari ini saya akan membicarakan sebuah realita yang mungkin semua wanita akan melewatinya atau pun bagi mereka para lelaki juga. Namun, kali ini tulisan ini khusus buat mereka yang mengaku diri wanita/para gadis yang sejati akan fitrahnya.

Langsung saja dengan topiknya, siapa sangka kalau film AAC (Ayat-Ayat Cinta) menjadi film bioskop terlaris selama hampir 2 bulan mendatang ini yang menurut info di berbagai media dan sutradara sendiri sampai saat ini AAC the movie telah mencapai penonton lebih dari 2 juta orang di seluruh Indonesia.

Sebuah penghargaan yang luar biasa tentu bagi Hanung dengan berbagai komentar yang cukup luar biasa juga, lihat saja di postingan awal saya ini.

Hal yang menarik disini adalah ketika film AAC ini menjadi momok atau bahan pembicaraan ketika hal yang tidak biasa diangkat ke dalam layar lebar atau bioskok menjadi sesuatu yang “biasa”. Siapa sangka bila tema poligami menjadi bahan omongan dalam film ini.

Saat-saat saya browsing di sebuah situs ini, khususnya di bagian topik tanya jawab dengan ustadz Ahmad Sarwat. Lc dalam hal nikah. Terlintas sebuah judul yang saya kira hanya pertanyaan biasa saja, namun setelah melihat isi pertanyaannya ternyata berhubungan erat dengan AAC.

Sebegitu tingginya rate film ini menjadi bahan pertanyaan bagi para ustadz/ustadzah pengasuh di berbagai situs Islami di Indonesia bahkan diberbagai kajian-kajian para pemuda-pemudi diberbagai institusi. Sehingga menuntut para ustadz pun harus sedikit gesit memantau film-film yang bertema Islami ini agar tidak salah dalam memberikan jawaban. komentar atau pun alasan.

Hal yang menarik dari pertanyaan diatas dalam rubik tersebut mungkin saya tidak begitu membahas pada isi poligaminya, melainkan jawaban dari pertanyaan tersebut yang isinya sungguh membuat saya membaca berkali-kali.

Dimanakah hal tersebut yang membuat saya mengulang beberapa kali akan maknanya? tepat di bagian solusi yang diberikan oleh Ahmad Sarwat yakni seorang anak gadis seharusnya sangat dekat dengan ayahnya.

Namun, bagian apa yang bisa menjadi paling menarik dari jawaban itu? saya akan menjawab bagian preogratif-nya seorang Ayah bagi kebahagiaan anak gadisnya. Memang kita sering identik dengan kata preogratif pada lembaga pemerintahan yakin seorang presiden atau sebut saja elemen-elemen tertinggi disemua kalangan.

Tetapi seorang Ayah atau Bapak tentu juga seorang pemimpin kecil bagi keluarganya sendiri maupun bagi dirinya sendiri. Dimana sebagian kita mengenal memang sosok seorang Ayah itu lebih “rendah” prioritasnya dibandingkan pengorbanan seorang Ibu, siapa yang tidak tahu hadist Nabi tentang siapa yang harus kita hormati yang lebih tinggi dalam sebuah keluarga, hadist ini salah satunya: Bahz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya berkata: “Saya tanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, siapakah harus saya taat?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Kemudian siapakah? tanya saya lagi. Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Saya bertanya sekali lagi dan Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya saya lagi.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ayahmu, kemudian yang terdekat dan yang dari kerabat”. Ibu dalam hal ini memiliki hak utama sedangkan untuk Ayah hanya 1 kali bandingan saja (3:1).

Sebelumnya saya minta anda untuk tidak berpikir macam-macam (negative thinking) tentang paparan perbandingan Ibu dan Ayah tersebut, bukan maksud disini saya merendahkan hak seorang wanita lebih hina dari pada lekaki atau pun sebaliknya. Itu hanya sebagai penguat saja tentang hak preogratif seorang Ayah pada pertanyaan di atas saja. Oke!!!

Terus hal menarik lainnya adalah ketika seorang wanita atau muslimah dalam jawaban ustadz Sarwat mengatakan bahwa “Maka bagi seorang wanita muslimah yang aktifis, perlu diingat bahwa semua aktifitas Anda menjadi seorang kader atau aktifis, akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya, manakala anda tidak mampu mengambil hati ayah kandung. Sebab biar bagaimana pun, hak dan wewenang ayah kandung itu mutlak dibenarkan dalam syariah Islam.”

Itu menurut saya sungguh luar biasa dimana di paragraf berikutnya sang ustadz menambahkan dengan umpama “Kalau seorang wanita datang dengan calon suami ideal pilihannya, tapi sang ayah masih menggeleng, jelas sudah siapa yang menang. Yang menang tentu saja ayah, meski si gadis telah didukung oleh 1.000 ustadz atau ustadzah kondang sekalipun”.

Mungkin cukup 3 paragraf dari solusi itu saja yang anda baca dari jawaban ustadz tersebut dan saya pun tidak akan mengaitkannya dengan film AAC yang pro kontra masalah nikah seorang Fahri dengan Maria yang tinggal dalam satu dan bla bla seterusnya.

Sedikit pemikiran dari saya dalam jawaban tersebut adalah kembali merevisi atau mengingat akan kehidupan para wanita sekarang terlebih di jaman yang serba glamor dan metropolitan apalagi kehidupan di Jakarta.

Walaupun saya tidak pernah tahu akan kehidupan hakiki wanita dalam sehari-hari baik tingkah dan sikapnya, sebenarnya saya masih bisa menilai keluarga saya sendiri dimana saya mempunyai dua orang kakak perempuan yang setiap saat bisa saling berbagi dan bercerita.

Kenapa sih dalam jawaban tersebut diatas sang ustadz mengumpamakan dengan sebuah tingkatan paling tinggi (1000 ustadz/ustadzah), memang masalah preogratif seorang Ayah kecuali jika seorang Ayah mendapat ilham yang lain dan itu lain cerita. Tapi tahukah kita saat ini bagaimana seorang wanita atau para gadis berlaku terhadap Ayahnya sendiri, luar biasa macam-macam. Dalam hal positif tentunya, banyak para gadis yang lupa akan kedekatan mereka dengan ayahnya ataupun bisa jadi sebaliknya.

Saya menilai hal ini adalah sebuah penurunan drastis, dimana ketika dulu sebut saja masa-masa muda para orang tua kita. Hormat seorang anak kepada orang tuanya sungguh bisa diacungkan jempol baik itu laki-laki maupun wanita. Namun kenyataannya sekarang bisa anda nilai sendiri, betapa arus zaman membawa kita sering melupakannya akan tatanan hidup yang harmonis. Betapa pesat budaya luar (westernisasi) masuk ke wilayah barat khususnya Indonesia membawa perubahan besar.

Hal yang paling kecil adalah pergaulan, mode serta sikap gaul adalah incaran budaya luar. Entah kenapa juga Indonesia yang masih mayoritas muslim menjadi sasaran empuk bagi korban mode dan segala macamnya terlebih bagi para ABG dan juga mahasiswa-mahasiswi.

Hal yang paling gampang bisa diibaratkan kita lupa akan Allah diwaktu kita sedang menikmati kesenangan atau kemudahan, namun sebaliknya ketika kita jatuh ke titik rendah (kesusahan) kita akan memohon dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memohon sesuatu kembali seperti semula. Begitu juga dengan orang tua kita, yang kadang-kadang kita lupa dengan pengorbanannya dari waktu kita masih kecil dulu hingga sampai dewasa seperti ini.

Bisa anda renungkan, betapa banyak pengorbanan yang telah kita berikan kepada mereka hingga mereka masih sempat bisa merasakannya sampai saat ini, walaupun kita akui tidak ada pengorbanan yang bisa kita balas jasanya 100 persen. Melainkan doa kita sebagai seorang anak yang shaleh kepada kedua ibu bapak kita dan kadang-kadang itu pun kita masih sering lupa untuk berdoa kepada keduanya.

Kenapa sih, orang tua menjadi sesuatu yang sangat dihormarti dan harus dipatuhi? anda mungkin lebih tahu dari pada saya. Bahkan dalam hadist pun telah diungkapkan “Dimana ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan juga murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua”.

Betapa besar akan hal tersebut diatas telah kita lakukan, terlebih bagi seorang wanita yang benar-benar dekat dengan Ayahnya. Karena ini menyangkut masa depan mereka, namun hal tersebut tidak ada bagi seorang lelaki dimana dia bisa menjadi wali atas dirinya. Terlebih dari itu pun restu akan orang tua juga sangat mulia.

Semoga hal ini menjadi refleksi bagi kita bersama, terlebih buat kalian wahai para wanita muslimah. Fitrah mu menjadi sesuatu yang sangat berhagai nilainya dengan mendekatkan diri dengan orang tua terlebih bagi seorang Ayah yang telah menafkahi kita sampai menjadi manusia sehat dan kuat seperti ini.

Laki-laki Setia


Very good story, bahagia sekali bila dalam hidup ini kita memiliki pasangan hidup seperti cerita dibawah ini.

Semoga Allah memberi kita pasangan hidup yang tetap mencintai hingga ujung usia. Amin….

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana . Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan ? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.
Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan ?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!

Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..
from my friends in the forum (my collection ~ best story)

Was Ayesha A Six-Year-Old Bride? [part II/II]


BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr. Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.” Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud. Continue reading

Menangisnya Wanita


Wanita Menangis

UNTUK hari ini resensi khutbah jum’at tidak dimuat, berhubung datang agak telat ke MUI, jadi gak begitu reflek dengan khutbah dan juga plus keadaan panah yang menyelimuti Depok. Walaupun cuaca sedikit mendung, namun suhunya lumayan meneteskan keringat. Jadi sebagai peganti, kebetulan dapat sebuah tulisan dari temen-temen di MP (multiply) yang sayan anggap lumayan untuk perjuangan seorang wanita walaupun untuk judul tidak disamakan dengan sumbernya (ini atau ini). Inilah cuplikan ceritanya:

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya.

“Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.

“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi.

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”.

Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,484 other followers

%d bloggers like this: