Diantara Keistimewaan dan 4 Desember


Daerah Istimewa

BANYAK dari kita yang kerap mengingat hari lahir, hari jadian, atau hari-hari yang memang begitu indah jika dilewatkan. Namun, salahkan kita jika melupakan hari jadi daerah? ya kalau boleh dibilang ini sesuatu yang berkaitan dengan kecintaan pada negeri yang sering dikenal nasionalisme.

Jika merunut sejarah tempo dulu, Indonesia (NKRI, -red) mempunyai dua daerah istimewa dan salah satunya adalah DI (Daerah Istimewa) Aceh yang hari jadinya jatuh pada tanggal 7 Desember 1956 atau setara 55 tahun Dista Aceh sebutan lazimnya telah diakui di Indonesia sejak kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Sejenak jika kita melihat kondisi Aceh pada bulan Desember 2011 ini, memang yang terbayang hanya sekilas miladnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tidak lebih sudah berumur 35 tahun pada tanggal 4 Desember yang lalu. Continue reading

Menyibak Bukti Sejarah Bungker Jepang di Bireuen


null

Inilah pintu utama bungker Jepang yang sedang dipugar di kawasan Cot Batee Geulungku, Kec. Simpang Mamplam, Bireuen

MATAHARI kala itu sudah menyengat, waktu Ashar pun belum tiba. Minggu (7/8) beberapa waktu lalu, bersama rekan-rekan Aceh Blogger dan Komunitas @iloveaceh mengatur waktu untuk menuju sebuah tempat, kira-kira 30 km dari pusat kota Bireuen ke arah barat.

Ya, kami sering mengatakan ini dengan istilah ekspedisi. Dimana mencari sesuatu yang kadang masih tertutup dan tidak banyak diketahui oleh publik. Tidak peduli itu belantara hutan, semak, atau pun pesisir laut, dimana ada tempat yang kira menarik untuk dikunjungi, kami siap mengarungi waktu. Kami sering membawa misi, “Ayo, menulis Aceh di Internet!” yang kami galakkan lewat “gencatan” blogger militan di Komunitas Blogger Aceh.

Secuil kisah ini merupakan pengalaman yang luar biasa untuk pertama kalinya dalam hidup, bersama teman-teman komunitas kami mencoba mempelajari lagi sejarah yang pernah terjadi di dataran Bireuen ini. Dataran dimana pernah menjadi salah satu pusat peradaban, dan nilai-nilai sejarah yang kadang sering luput dari waktu dan mata-mata orang yang sibuk mengatur hidup untuk memenuhi perut sendiri. Continue reading

Rasulullah dan Kasih Sayang


SEUNTAI kalimat mesra, atau sepotong coklat yang berbentuk love, mungkin sebuah kecup mesra dihari yang bahagia.

Ya, itu hanya sebagian yang akan terlintas dikepala disaat anak-anak manusia yang lahir dari setiap ibu-ibu mereka, mengucapkan dan memaknai sebuah hari, dimana menjadi hari kasih sayang, yang lebih dikenal dengan valentine day.

Terlepas dari itu semua, hari ini bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah, telah lahir ke dunia, penghulu kita Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Continue reading

Yuk, Lestarikan Situs Sejarah Aceh!


Makam

Foto: Central Information for Samudra Pasai Heritage

SIAPA diantara kita yang sudah sempat melihat atau menemukan batu nisan seperti di atas atau sejenis lainnya yang mempunyai corak atau kemiripan yang sama, saya yakin tidak semua orang Aceh pernah melihatnya, kecuali bagi mereka yang tinggal di Lhokseumawe, Banda Aceh, Aceh Besar atau sekitarnya yang sempat mengunjungi makam Sultan Iskandar Muda, Kompleks Kerkhoff atau daerah makam-makam ulama besar Aceh jaman dulu yang memiliki  batu nisan yang mirip seperti itu. Continue reading

Peninggalan Hindu di Mesjid Tua Indrapuri


Mesjid Kuno Indrapuri

Mesjid Kuno Indrapuri/Foto: jejakmihrabmimbar.wordpress.com

BERAWAL dari sebuah candi Hindu, lambat laun berubah menjadi mesjid yang kini telah menjadi salah satu tempat wisata realigi di desa Peukan Indrapuri atau dikenal dengan Indrapuri Pasar, Kabupaten Aceh Besar. Unik dan menarik untuk diketahui, serentetan sejarah masuknya Islam ke Aceh membuat kita tidak akan pernah tahu kisah dari candi Hindu yang sempat dihancurkan lalu menjadi mesjid yang kini masih setia menemani warga setempat untuk beribadah.

Mesjid Indrapuri ini masih tetap terjaga dengan etnik tradisional yang dimilikinya, bentuk serta ukuran yang tidak begitu mewah menambah tanda tanya besar, dari mana asal usulnya mesjid yang berukuran bujursangkar tersebut bisa menyimpan berjuta sejarah Aceh tempo dulu. Continue reading

Di Balik Karya Mereka


manuskrip Aceh

Salah satu naskah kuno Aceh/Foto: decky-murtaza.blogspot.com

APA yang terlintas dipikiran Anda saat kata-kata sejarah ditanyai oleh orang lain tentang tempat Anda lahir, bagaimana asal muasal nama tempat Anda lahir bisa bersemat menjadi nama sebuah lorong, kampung, kota dan lain sebagainya. Dan belum lagi dengan pertanyaan seputar sejarah pahlawan, raja atau sultan yang pernah berjaya dan masih begitu banyak lagi.

Saya rasa jawaban Anda tentu dengan berbagai selera dan pastinya berbeda-beda menurut variasinya. Dan jawaban yang paling parah selama saya hidup ini adalah mendengar ucapan “untuk apa baca sejarah lagi dan bla…bla”. Jika jawaban itu menghampiri telinga Anda, jelas Anda akan bertanya dan terus bertanya. Tapi ingat, tidak semua generasi lupa akan sejarahnya.

Ada waktu dimana mereka belum siap menulisnya, ada juga kesempatan dimana mereka sedang sibuk mempersiapkan tulisannya, mungkin juga ada yang sibuk poh cakra alias cuma bisa ngomong doang, tanpa bisa menuai apa-apa dari yang telah dibicarakan. Continue reading

Diantara Persimpangan Jalan Aceh Bisa “Merdeka”


peta aceh jaman belanda

image by angefriet.net

ADA sebuah buku yang saya baca, ditulis oleh Kolonel (CZI) Syarifuddin Tippe, SIP, MSi mantan Danrem 012/Teuku Umar Banda Aceh yang bertugas sejak tahun 1999. Buku yang berjudul “Aceh di Persimpangan Jalan” menjadi salah satu dari sekian banyak literatur sejarah dalam mengukir cerita Aceh dari masa ke masa.

Sebuah ungkapan dalam buku tersebut, beliau kutip dari buku Perang Aceh (Aceh Orloog) karangan seorang Belanda, Van de Vier yang berbunyi “Orang Aceh dapat dibunuh, tetapi tidak dapat ditaklukkan”, selain itu dalam halaman yang sama penulis juga mengutip pepatah Aceh, “Tembaklah hati orang Aceh, jangan tembak kepalanya.” Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,459 other followers

%d bloggers like this: