“Fresh Graduate” kok Nganggur?


KERAP sekali kata-kata lulusan baru atau fresh graduate┬áitu terdengar, yang setidaknya pertanyaan lazim, “sudah kerja dimana sekarang?” dan berbagai pertanyaan lainnya.

Judul tulisan ini juga saya bingkiskan dihalaman Google+ beberapa jam lalu, mengingat tulisan ini sudah lama ingin saya tulis.

Semenjak menyandang gelar sarjana dan resmi diinugerasikan pada tanggal 16 September lalu dihadapan ribuan mahasiswa, membuat sebagian dari kewajiban dan rutinitas ngampus terbilang sangat berkurang.

Biasanya, kegiatan ngampus itu memang terbilang mengasyikkan dan satu hal yang pasti menjadi suatu kewajiban bagi yang masih menyandang status mahasiswa. Continue reading

Masuk Kampus Cuma 60 Juta?


uang

Ilustrasi: Istimewa

“PUNYA adik yang masih SMA, tinggal pilih Universitas yang disukai, terus cukup bayar 60 juta setelah diterima, mau?”

Itulah sepenggal kata yang masih saya ingat, saat sedang ingin menyantap makan malam disebuah warung bilangan Depok. Aneh memang, tapi seperti itu yang terdengar dari hasil percapakan dua orang lelaki di depan saya.

Betapa gampangnya saya pikir, mereka untuk menjebak ‘promosi’ ini kepada generasi muda, agar mudah menikmati bangku perkuliahan.

Tidak terbayangkan jika memang itu terjadi, apa hasil atau benih dari masuk lewat ‘bayar’ ini akan jadi sesuatu yang baik kedepannya. Continue reading

Belum Bisa Nulis Lagi


blog

Maklum kehidupan seorang mahasiswa tidak lepas dari kesibukan ini dan itu, atau pun mencari kesibukan alias sok sibuk.

Banyak temen ngasih awards ini dan itu juga, dan belum saya sempatkan untuk menulis atau mengucapkan tanda mata untuk dibaca oleh mereka dan bisa jadi saya juga sudah lupa Continue reading

Mahasiswa Plus Sutradara


Aksi di depan DPR

Bentrok antara mahasiswa dengan polisi kembali terulang, Rabu (25/6) malam. Aksi kurang simpatik dilakukan mahasiswa dengan merusak pos Polantas Bundaran Senayan, Jakarta Selatan. Polisi menangkap seorang demonstran.

Pemukulan serta penangkapan oleh polisi membuat mahasiswa tidak tinggal diam. Dalam jumlah yang lebih banyak, gabungan mahasiswa se-Jabotabek muncul dan balik menyerang polisi. Saling lempar batu, botol, dan tembakan gas air mata pun tak bisa dihindarkan.

Bentrokan baru berhenti setelah polisi mundur dan mahasiswa berhenti melakukan serangan. Demonstrasi dilakukan mahasiswa terkait dengan peristiwa kematian aktivis Univeritas Nasional Maftuh Fauzi beberapa waktu lalu.

Itulah berita yang diturunkan oleh Liputan6.com, kalau berbicara masalah ini sebenarnya sudah mengalami masa kadarluarsa alias basi. Kenapa begitu? anda yang sering mendengar dan melihat berita di berbagai media tentu punyai alasan. Continue reading

Peusapat Kawoem Muda


Sejak hari jum’at (18/4) yang lalu saya kehilangan akan dunia luar, ketika informasi yang ada berubah menjadi suasana politisasi dalam sejuknya udara puncak Bogor. Ya itulah namanya “Peusapat Kawoem Muda” atau dalam arti bahasa Indonesia “Temu Kaum Muda” yang merupakan acara perdana dalam kontrak sosial pendidikan politik untuk pemuda dan mahasiswa Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

Acara yang berlangsung selama 2 hari ini, mendatangkan pembicara dari berbagai kalangan, pengamat dan aktivis politik. Acara ini diselenggarakan penuh oleh panitia Asrama FOBA Setiabudi Jakarta dengan dibantu oleh BRR (yang tidak jelas rimbanya).

Dalam kontrak sosial ini, diangkat sebuah tema yakni “Perdamaian Abadi sebagai Basis Peradaban dan Kebudayaan Rakyat Aceh” dalam dua sesi berbeda yaitu panel forum dan workshop. Pengalaman yang sungguh luar biasa ternyata dalam ikut serta acara ini, dimana wawasan akan dunia perpolitikan Aceh dikupas secara mendalam dan terbaru.

Tak lepas dari itu juga, tentunya sesi panel forum lebih membuka sejumlah opini dan pendapat dari berbagai kalangan aktivis muda di Jakarta. Acara yang sempat dihadiri oleh staf ahli Menpora Bang Arief Jamaluddin ini membuka sebuah wacana baru untuk pergerakan mahasiswa Aceh ke depan.

Selain panel forum yang terbuka bebas ini, malam apresiasi film yang berjudul “Hotel Rwanda” juga menjadi topik yang sangat menarik disela-sela malam mingguan di puncak. Dimana konflik yang terjadi di Rwanda selama ini teradopsi sebagai sebuah pertikaian yang sangat erat bersuasana politik seperti di Aceh saat ini.

Workshop yang di fasilitatori oleh Teuku Kemal Fasya asal dosen Universitas Malikussaleh pada hari kedua juga mengangkat sisi baru bagi peserta acara ini. Sebuah makna kata rekonsiliasi yang dimiliki oleh Aceh diangkat sampai ke tema skenario untuk memerankan aksi-aksi yang telah ada.

Isu pemekaran, perbedaan etnis, budaya dan ekonomi sampai kepentingan politik akan pihak ke tiga (spoiler of peace) juga menjadi isu hangat suasana dalam workshop tersebut. Tak ketinggalan juga dalam acara ini juga turut hadir peserta dari kaum wanita dengan mengangkat sisi gender yang selama ini tumpang tindih.

Selain itu, acara yang berlangsung dengan suasana santai dan nyaman ini menjadi titik awal bagi para pemuda dan mahasiswa Aceh di Jakarta untuk bisa berkontribusi penuh dalam membangun pemerintah Aceh untuk masa depan. Jeda waktu yang selama ini ada memang sangat diutamakan untuk proses rekonsiliasi (perdamaian) setelah penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

Akhir kata saya pribadi mengucapkan selamat atas kerja keras mahasiswa Aceh FOBA untuk terselenggaranya acara ini, semoga tahun depan menjadi acara tahunan yang selalu mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan. Berita selengkapnya juga bisa di lihat di blog SAMAN UI hasil postingan saya, lengkap dengan rangkaian acara.

Hamba Yang Lemah


Hari ini adalah catatan sejarah dalam hidup seorang mahasiswa, mendapatkan sesuatu dorongan atau motivasi yang begitu “berkilau”. Tak heran bila hal ini menjadi sebuah makna tersendiri berharga, dimana tumpuan saya sebagai seorang manusia pasti memiliki titik kelemahan yang mungkin saya sendiri luput dan lupa atas hal tersebut.

Sekilas menbaca buku harian hari ini, sungguh menggetarkan dengan sebuah tulisan kecil yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi sebuah pembangkit untuk saat ini. Namun, bukan hanya sesaat melainkan ini bisa untuk selamanya.

Hari-hari saya dalam hampir 3 pekan ini memang sungguh suatu “permainan”, yang paling utama adalah waktu yang terlalu terburu dan sifat kemahasiswaan yang selalu sering menunda akan sesuatu pekerjaan. Ini terbukti dengan adanya sebuah refleksi dari orang lain yang ternyata masih sangat mengharapkan saya untuk menjadi yang terbaik di dunia ini dan terkecuali juga kasih sayang Allah SWT yang insyaAllah selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Suatu hal yang paling menjadi kebanggaan kita hidup di dunia fana ini adalah kasih sayang Allah, yang tidak akan pernah lepas. Hal ini juga tercantum dalam sebuah ayat Al-Quran surat Al Baqarah ayat 286 dimana Allah telah berjanji tidak akan memberikan beban yang lebih kepada hamba-Nya sungguh dari batas yang telah ditentukan.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Itu menjadi dasar sebagai sebuah keyakinan (haqqul yakin) untuk menjadi hamba yang terbaik disisi-Nya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,480 other followers

%d bloggers like this: