Google Terapkan Fitur Background


google

Ilustrasi: googleblog.blogspot.com

MESIN pencari Google memang tidak pernah kehabisan ide dalam menarik perhatian penggunanya. Sejak menjadi perusahaan terbuka di tahun 2004, mesin pencari nomor satu di dunia ini kian melejit dengan berbagai produknya.

Tidak hanya itu, tepat di awal tahun 2005, Google kembali memperkenalkan produk barunya bernama iGoogle. Dengan iGoogle, seseorang bisa meklukan berbagai personalisasi terhadap mesin pencari hasil karya Page dan Brin tersebut.

Kali ini, inovasi yang diberikan oleh Google kepada penggunanya, yakni memungkinkan anda untuk menambahkan foto favorit atau gambar sebagai latar belakang (backgrounds) pada halaman utama Google. Selain itu anda juga dapat memilih foto dari komputer Anda sendiri atau Picasa Web Album. Continue reading

Google Siap Hajar Apple


google vs apple

Ilustrasi: dmxzone.com

BUKAN Google namanya kalau tidak mengeluarkan produk-produk canggih teranyarnya.

Setelah membuat Apple merah kuping dengan mengeluarkan Nexus One, kini Google tengah berencana mengembangkan komputer tablet. Kumputer ukuran mini ini digadang-gadang untuk mengalahkan iPad, tablet teranyar besutan Steve Jobs. Lagi-lagi, Google membuat bos Apple itu berpikir keras untuk memasarkan iPad yang pada penjualan hari pertama rilis di California awal bulan ini, mencapai 300 ribu unit.

Komputer tablet yang direncanakan Google itu dinamakan ‘gPad’. Ini tablet reader yang mempunyai kemampuan komputasi seperti PC tablet. gPad akan diperkaya dengan fitur Google Books –kalau di iPad ada iBooks– serta konten Marketplace. Jika iPad menggunakan sistem operasi iPhone, maka gPad mengandalkan Android, berbasis Linux. Continue reading

Google Buzz Ramaikan Jejaring Sosial


google buzz

Ilustrasi oleh Google

TIDAK mau ketinggalan dengan para pengembang jejaring sosial lainnya, seperti Facebook dan juga microblogging Twitter, kini membuat Google beradu inovasi dengan meluncurkan sebuah web jejaring sosial yang diberi nama Google Buzz.

Google yang dikenal sebagai mesin pencari terbesar di dunia ini, mencoba untuk menarik minat netter dengan mengandalkan Buzz (nada chat di YM, -red), selain itu kehadiran Google Buzz memang lebih ke media jejaring sosial di bawah layanan Gmail. Langkah yang diambil Google memang terkesan berani dan kreatif untuk menyaingi kompetitornya.

Kemudahan yang ditawarkan produk terbaru Google Buzz ini juga mendukung berbagi tulisan/status, foto dan juga tautan video. Semua kegiatan itu dapat dilakukan oleh pengguna dengan memanfaatkan account Gmail tanpa harus melakukan setingan lainnya. Continue reading

Facebook, Twitter dan Google Antimonopoli


anti monopoly
image by radicalgraphics.org

RAKSASA dunia maya Google dan juga dua situs jejaring sosial lainnya, Twitter dan Facebook, akhirnya sepakat untuk mendukung rencana aturan netralitas internet seperti yang direncanakan Federal Communication Commission (FCC).

Salah satu dari grup perusahan internet, menyurati chairman FCC, Julius Genachowski, Senin (19/10), untuk mendukung upaya yang menjamin netralitas dunia bisnis dan juga akses Internet yang non-diskriminasi bagi pelanggan dan pebisnis dunia maya. Continue reading

Google Wave: Kolaborasi Baru dari Google


google_wave

image by shore.com

TIDAK berlebihan jika Google menjadi situs nomor wahid di dunia dalam kategori search engine (mesin pencari). Google terus berinovasi. Salah satu inovasi teranyarnya yaitu Google Wave.

Google Wave kini sedang digodok oleh para developernya, Lars dan Jens Rasmussen: dua bersaudara yang lebih dulu telah membangun sebuah fitur baru yang kita kenal dengan Google Maps.

Hadirnya Google Wave ini bertujuan untuk membentuk sebuah komunikasi baru di dunia maya secara real time dengan mengkolaborasikan layanan-layanan Google sebelumnya, seperti Google Mail dan Google Maps. Niat dari Google juga terlihat pada jargon yang ditulis pada situs resminya http://wave.google.com “Communication & collaborate in real time”. Continue reading

Terkait Penutupan Youtube


Beberapa waktu lalu, Youtube.com dikenakan status “pending” pengaksesan dari Indonesia sesuai dengan amanat dari Mentri Depkominfo M. Nuh. Pada waktu yang sama juga Depkominfo menyempatkan diri untuk berbincang khusus dengan para blogger Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, banyak pengguna Internet mengganggap situs resmi pemilik saham google.com ini diblok atau istilahnya blocking dengan kerjasama para penyedia provider di Indonesia atas instruksi Depkominfo. Ada hal penting yang ingin saya kemukakan mengenai penutupan situs sharing video tersebut.

Dari hasil ceramah Pak Edmon selaku staf ahli Depkominfo dari hasil kuliah Telematika hari ini (11/4) teridentifikasi bahwa, timbulnya satu judul yakni “Apakah UU ITE Mengancam?“. Hal ini tidak lepas dari berbagai pernyataan pendapat dari kalangan Dewan Pers tentang pemberlakuan UU tersebut serta pendapat-pendapat lainnya yang kian berterbangan di media massa dan elektronik.

Dari sebuah judul sederhana tersebut, ternyata terpencar banyak bagian-bagian yang sangat “berkelas” dari penerapan UU ITE tersebut. Sebut saja contoh seperti pemblokiran youtube.com beberapa waktu yang lalu, myspace.com yang berencana akan ditutup juga, penggunaan proxy anonymous serta sampai dalam regulasi telekomunikasi untuk pihak penyelenggara.

Disini saya tidak melihat masalah yang terpencar dari bagian-bagian tersebut, melainkan melihat kondisi Indonesia yang sangat lemah dalam menilai arti cyber police dan/atau cyber law dalam dunia maya. Mengapa dewan pers Indonesia kembali menggugat pasal 27 ayat (1) dan ayat (3)? Jelas menyangkut nama baik atau pencemaran nama baik karena melanggar UU.

Adakah masalah lain dibalik itu? tentu jawabannya masih banyak. Mulai dari penetapan akan tindak pidana (KUHP) serta penyinggungan masalah SARA. Hal ini tentu membuat kalangan-kalangan yang berpentingan akan merasa gerah, contoh kasus om Roy Suryo yang selama ini di “hujat” apakah itu salah satu dari pencemaran nama baik orang!

Banyak juga permasalah yang membuat bangsa ini kian hari kian tertipu dengan media yang dibaca dan didengarnya. Culture (kultur) bangsa Indonesia yang berjalan pluralisme dan berbagai macam keanekaragaman budaya tentu menjadi sesuatu yang bisa lebih berpotensi dalam memikirkan intelektual tinggi.

Tidak saja orang-orang hukum bisa mendapat gelar dengan begitu gagah, namun tidak tahu akan arti kepentingan hukum itu sendiri. Hal mudah saja bisa kita lihat dari bentuk kelalaian seorang manusia bisa berbuah hukuman (apalah istilahnya kalau tidak KUHP atau pun KUHAP), kenapa bisa begitu? jelas itu adalah bentuk tidak kesengajaan, tetapi itulah perlu adanya kehati-hatian (orang hukum lebih mengerti akan pasal-pasalnya).

Kembali ke youtube tadi, sebenarnya bangsa ini tidak perlu begitu bersikeras dengan pihak-pihak youtube atas penayangan / publish video GW asal Belanda tersebut. Pemblokiran yang ada pun bukan semata karena adanya interfensi atau flow (arus), istilah ini bisa dipelajari lebih lanjut atas pernyataan sikap dari pihak google selaku pemilik saham youtube kepada pihak pemerintah (lihat detik).

Untuk itu pemerintah Indonesia pun harus banyak belajar dalam kasus muatan SARA tersebut pada situs youtube, sehingga peristiwa seperti ini tidak membuat bahan pikiran baru dari respek sebagian banyak pecinta cyber.

Melihat sisi lain dari sebagian kenyataan yang ada di Indonesia, memang sangat beralasan dimana seseorang sering mengalami sesuatu hal yang tanpa memiliki identitas benar atau salah. Pemikiran taktis dengan strategi itu adalah sebuah sikap dan perbuatan yang tidak akan nyambung bila kita mengaitkannya dengan kasus yang dialami Indonesia sekarang ini.

Film Fitna sebut saja yang mendapat reaksi keras, tentu hal yang mutlak dilkukan bukanlah mengatur strategi melainkan taktis. Orang yang sedang digempur oleh lawan saat berperang misalnya, tidak mungkin dia akan memikirkan strategi lagi karena antara dua pilihan menembak musuh atau ditembak musuh. Maka peran akan taktis sangat diperlukan.

Masih banyak cerita lainnya yang belum saya utarakan, mungkin cukup untuk sekian dulu pada versi [tidak stabil ini] dan akan diupdate untuk seterusnya.

Aksi Untuk UU ITE


Berbagai pesan melalui chattingan saya hari ini pada jam 17.40 WIB masuk dengan statmen-statmen yang begitu keras dan memberontak dalam arti kata tidak setuju terhadap UU-ITE.

Semenjak Pak M. Nuh Depkominfo bertemu dengan para blogger Indonesia beberapa hari yang lalu, Pak Nuh mengatakan para Blogger adalah keluarga (our family). Pertemuan yang diadakan pada senin malam itu terkait halnya keberadaan situs youtube.com yang disinyalir akan ditutup (blokir) karena memuat video-video yang berbau dengan film fitna yang sempat hit beberapa minggu ini.

Akibat dari itu, pihak youtube.com pun sudah diberitahukan untuk tidak mengedarkan atau mem-publish video tersebut berhubung suasana ancaman terhadap dalangnya film tersebut Geets Wilders makin memuncak.

Tidak ada sesuatu yang khusus sebenarnya terkait dengan UU ITE dengan si GW tersebut, namun entah kenapa aksi dan isu-isu yang menolak ITE semakin hari semakin semeraut. Lihat saja berita-berita yang ada di berbagai media cetak maupun elektronik, semua pasti ada judul yang berhubungan dengan ITE sampai dengan seruan untuk terus diminta direvisi dan dikoreksi untuk lebih bijak dan sosialis terhadap negara ini.

Pasal demi pasal dalam UU ITE pun kian rancu dimata-mata orang yang berkepentingan. Lain lagi dengan masalah pemblokiran situs-situs ternama di internet menambah hangat masalah UU yang satu ini.

Youtube.com, Multiply.com, Rapishare.com, dan masih banyak lainnya yang akan dilist untuk menjadi objek pemblokiran karena dianggap melanggar dari UU ITE. Hasil forward dari chattingan hari ini pun membawa isu Google, Friendster bahkan sampai YM (Yahoo Messanger) akan menjadi list berikutnya.

Jelaslah bahwa pesan chattingan begitu seru dengan aksi untuk mendemo Depkominfo, untuk meminta kejelasan tentang isu-isu yang akan diblok beberapa situs-situs unggulan para pecinta dunia cyber apalagi kalau bukan seperti mbah google, friendster dan lain-lain sebagainya.

Perlukah aksi ini bergulir kedepan untuk kembali terjun ke “lapangan” lagi, apakah tidak cukup hanya sebatas pertemuan para netter seperti yang dilakukan senin malam tersebut oleh Depkominfo? atau emang rakyat ini harus bangun dari meleknya teknologi. Bersama kita bisa!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,456 other followers

%d bloggers like this: