Bersumpah Demi Waktu, Pejabat Bersumpah Demi Tuhan


Ilustrasi Sumpah PejabatBELAKANGAN ini hampir diberbagai kesempatan, di kehidupan nyata semisal di kampus hingga di kehidupan dunia maya kondisi bangsa selalu menjadi bahan pembicaraan, tidak saja soal relevansi A dan B tapi juga lebih dalam sampai pada tingkatan moral orang-orang yang telah mengais dan menginjak kaki di bumi pertiwi ini.

Tak tahu apa alasan pembicaraan ini begitu hangat, seperti merasakan terpaan pancaran matahari pagi yang masuk lewat celah-celah jendela yang menghadap ke timur. Saya pun yakin, karena tahun 2014 akan menjadi tahun yang terulang dalam hal kepemimpinan yang dicari atau kepemimpinan yang direbut, maka wajar saja orang-orang di republik pada ramai berbicara.

Ketika tahun 2013 berakhir, beberapa kali saya juga membaca sejumlah olah pikir (opini) dari orang-orang pintar di negeri ini. Acap kali tahun yang berganti dan masuk ke tahun yang baru orang-orang merasakan suka cita, walaupun itu hanyalah waktu sesaat dan setelah itu hari-hari di tahun baru pun akan dilewati dengan peliknya kehidupan.

Ada sebuah pernyataan yang menarik seperti diungkapkan oleh Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Asep Salahudin dalam tulisan berjudul “Mistisme Waktu”, dimana perayaan dari peralihan tahun yang penuh kesungguhan, sebenarnya kembali lagi pada etos kebaktian sekaligus sebagai ekspresi pemujaan pada Sang Pemilik Waktu.

Waktu yang sering kita temui dalam kitab suci Alqur’an adalah demi masa, begitu istimewanya waktu ini yang terkadang menjadi sebuah bumerang bagi hamba-hamba di dunia ini.

“Ini juga barangkali yang jadi alasan metafisis, dalam ajaran Islam, Tuhan banyak bersumpah menggunakan diksi yang berdimensi waktu. Sebut saja: demi masa (wal ashri), demi malam (wal laili), demi siang (wan nahari), demi fajar (wal fajri), demi bulan (wal qamari), demi matahari (wasy syamsi), demi waktu duha (wadh dhuha). Kata sang Nabi, “Dua hal yang acap kali terabaikan dalam kehidupan manusia: sehat dan peluang,” tulis Purek II IAILM tersebut.

Sepenggal kalimat di atas saya pun mulai paham, beberapa kali dan bahkan hampir setiap membuka lembaran mukjizat yang diturunkan lewat Nabi Muhammad Saw, waktu demi waktu selalu akan terbaca dan kini apa hubungannya dengan pejabat? Sebenarnya bukan saja pejabat melainkan juga dengan kita sendiri.

Seperti kalimat penutup yang disebutkan oleh Pak Asep, “Tidak mungkin Tuhan sampai bersumpah segala, kecuali di seberangnya terhamparkan realitas yang dianggap penting dan harus jadi perhatian seluruh ciptaannya. Hanya manusia (pejabat) yang menganggap sumpah tidak penting sehingga sumpah pun berubah jadi sampah. Kesadaran waktu mistis sekaligus fana inilah yang bikin Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi, sekaligus menggerakkan seorang Amir Hamzah di pengujung usianya menulis penuh kesunyian: ”Lalu waktu-bukan giliranku… menapaki waktu, mencipta jejak sambil menunggu giliran yang barangkali masih jauh”.

Saya rasa kalimat dari Pak Asep sudah sangat kena dengan kondisi sekarang, dimana tampang-tampang dengan muka manis, jargon dan motto yang bertebaran dan bukan sedikit uang yang telah keluar membuat negeri kita seakan sedang masuk lagi dalam sebuah skenario “pemimpin untuk rakyat” dan hampir kebanyakan faktanya tidaklah demikian.

Pesannya hanyalah satu, buat calon pejabat dan juga calon pemimpin serta hamba-hamba yang tidak menjabat. Jika pun kitab suci yang telah ada berabad-abad dulu (dijaga isinya hingga sekarang) diletakkan di atas kepala, sudahkah kita membaca ayat demi ayat dimana Tuhan bersumpah demi waktu, masih ada peluang kita mengkajinya disaat tubuh masih sehat. Kalau pun belum siap, tidak usah menjadi pejabat yang harus bersumpah demi Tuhan nantinya.[]Semarang

About these ads

42 Responses

  1. gue suka banget itu sama kata2 “mistisme waktu”
    biar nggak tau maksudnya, tapi keren aja kedenger-nya
    hweeekekeke

    • karena waktu adalah mistis, susah ditebak biar pun sudah ada kalender, jam, pagi terik dan ternyata siang hujan :)

  2. Aduuh kak ampe merinding bacanya,,, tapi betul juga ulasannya, kalau ya blm paham betul dengan sumpah, yo jangan bersumpah-sumpah ke rakyat

    • Nah itu dia, karena dianggap ‘sepele’ sehingga mungkin banyak orang abai dengan itu.

  3. kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan namun keblinger. janji para pejabat diawal masa pelantikannya senantiasa tidak menjadikan pegangan didalam masa jabatannya kedepan. seakan setelah menikmati jabatanya mereka lalai dengan janjinya itu…

    • manusia sering mengalami hal demikian, padahal atas setiap janji tentu harus ditepati apalagi bersumpah demi nama Tuhan, semoga di tanah air kita ini masih ada pejabat yang terus mengerti akan arti sumpah dan melaksanakan dengan hati tulus.

      • semoga daftar para pemimpin yang menjabat di negeri ini semakin bertambah baik dan mampu mensejahterakan rakyat..

      • Amin, kita do’akan semoga tercapai cita-cita rakyat ini :)

  4. Artikel yang menggugah, banyak orang tidak menyadari bahwa salah satu sumber daya yang tidak bisa dibeli adalah waktu, kalau sudah lewat ya sudah, mari manfaatkan waktu kita saat ini dan yang akan datang dengan hal-hal yang berguna, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik. amiin

    • Betul, sungguh waktu yang telah kita lewati tidak ada daya lagi untuk kita ulang sepersekian detik atau paling kecil.

  5. sesungguhnya apa yang kita ucapkan akan kita pertanggung jawabkan , dan seberat apapun janji kita harus penuhi jangan sampai apa yang kita janjikan dan apa yang kita ucapkan bisa menyeret kita lebih dekat dari neraka. artikel ini mungkin sangat kecil pengaruhnya tapi sangat besar manfaat buat yang baca .indahnya berbagi semoga makin banyak tulisan yang mengingatkat kita… amin

    by
    cincin kawin

    • Terima kasih bengkel cincin, saya yakin hampir dari setiap kita luput akan janji, namun mengingat waktu juga yang membuat kita akan diminta pertanggungjawaban kelak.

  6. thank’s infonya

    • sama-sama Ipe ;)

  7. miris. sumpah seperti dianggap biasa saja.

    • Semoga kita jangan seperti itu ya Ziuma

  8. Ga berani bersumpah atas nama Tuhan –> Kata pejabat nanti kalau korupsi dan udah sumpah atas nama Tuhan hukuman akhirat nya berat :)

    • Jadi pejabata pastikan niat dan tekad jangan korupsi :)

  9. ckckck…. menemukan kalimat dari sumpah jadi sampah! membuatku terhenyak… tulisan yang tajam, mba….

    • Terima kasih sudah berkunjung memoar, semoga tulisan ini dibaca oleh sekalian calon legislatif kita nantinya yang tak lain calon suara rakyat di parlemen.

  10. sumpah pocong ap itu juga bener

    • Itu sumpah mungkin adat atau memang kepercayaan daerah setempat

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,454 other followers

%d bloggers like this: