MATAHARI siang itu masih ‘ganas’ saudara, yah karena masih tepat pukul satu siang. Cuaca yang cerah tentu begitu kentara mengitari kota kecil Matangglumpangdua.
Mengingat rambut yang sudah subur harus segera dipangkas, dalam terik matahari pun saya bela-bela untuk mencari sang pemangkas. Ke arah selatan pertama saya gas sepeda motor, ternyata sang pemangkas masih sepi. Tak lama berbalik arah 180 derajat, giliran utara barangkali ada orang baru yang bisa saya dapati untuk mencincang rambut hitam ini.
Kecepatan motor pun mulai saya pelan-pelankan, sambil mencermati deretan toko mana yang tidak ramai pelanggan. Dan akhirnya tibalah pada deretan toko anak muda, yang bisa dibilang masih berumum 20-21 tahun.
“Pangkas rambut bang?”, disapa oleh seorang pria yang mukanya sangat familiar. “Iya”, jawab singkat saya.
Pria itu adalah adik kelas saya dulu saat SMP, Fajar namanya. Sebelum prosesi gunting-guntingan saya udah menyangkal kenapa Fajar beralih profesi, kalau tidak salah dia masih status mahasiswa di perguruan tinggi di Matangglumpangdua.
Perbincangan pun berlanjut dengan rasa ingin penasaran, “sejak kapan sudah mulai pangkas rambut,” tanya saya santai sembari dia melengkapi asesoris untuk siap-siap diproses dengan ragop (alat untuk memotong rambut).
“Saya NA (non-aktif) dua tahun bang. Dari situlah saya mulai tekuni untuk belajar memangkas rambut. Dan kini sedikit-sedikit saya sudah bisa dan mencoba,” jawabnya dengan jelas.
Spontan saya pun berpikir, “lalu bagaimana dengan kuliahnya sekarang,” pikir saya dalam hati.
Fajar juga menambahkan, sejak 2 tahun lalu cuti dari kampus. Kini aktifitasnya di keude adalah hidup mandiri untuk mencari penghasilan sendiri lepas dari orang tua. “Sekarang ya seperti inilah bang, kuliah sudah saya lanjutkan lagi dan usaha pangkas rambut juga tetap saya jalankan,” kata Fajar yang kini menumpang di toko kecil temannya tersebut untuk menjalankan usaha memangkas rambut.
Dan cerita pun terus berlanjut, hingga kepala saya sudah cepak dengan ukuran 2 centimeter. Tidak saja jago memangkas rambut, Fajar pun tahu cara merefleksikan diri pelanggannya dengan baik seperti mengurut kepala, dan sebagian wajah.
Akhirnya saya pun teringat dari kisah yang dilakoni oleh Fajar, banyak hikmah untuk bisa menjadi kreatif. Walaupun terbilang muda, dia tidak ada rasa pesimis, dari raut wajahnya tetap energik untuk menjadi pemuda mandiri. Tidak terlihat keluh kesah susahnya mencari penghidupan di atas kaki sendiri.
Satu hal lagi, saya juga baru teringat untuk memulai memangkas rambut dia telah menyisihkan waktunya 2 tahun agar benar-benar bisa seperti saat ini. Ini luar biasa, intinya apa yang ditekuninya tidak setengah-setengah alis cilet-cilet. Sukses terus Fajar![]
Filed under: Aceh Hari Ini, Ekstrakurikuler Tagged: | Anak Muda, Kreatif, Profesi, rambut, Tukang Pangkas










Wah. Aku udah pernah menemukan sosok “fajar” di Penayong. Pas cukur jenggot. Salut bisa bagi waktu kuliah sama kerja
Wah. Aku udah pernah menemukan sosok “fajar” di Penayong. Pas cukur jenggot. Salut bisa bagi waktu kuliah sama kerja
Wah. Aku udah pernah menemukan sosok “fajar” di Penayong. Pas cukur jenggot. Salut bisa bagi waktu kuliah sama kerja
betul sosok seperti ini padahal anak muda yg bisa kreatif dan mandiri, paling tidak buat diri sendiri ya.
3comment by JDM
Banyak orang pandai . . . Tapi sedikit yang bisa mengajar.
semangat!
Diantara sedikit pengajar-pengajar tersebut . . . sedikit pula yang bisa menginspirasi. lain halnya ini
luar biasa kata-kata bang Fari nih
Salut buat Fajar Sang Pemangkas rambut. Jadi teringat teman saya juga yang kebtulan bernama Fajar yag juga bekerja saat ini dan tidak mengambil mata kuliah KKN demi pekerjaan. Mungkin saja dia bisa mengikuti jejk Fajar yang di Matang Geulempang Dua…
Nah itu dia, ini nama dan pekerja hanya kesamaan saja ya
Barangkali benar juga Fajar yg di Lhokseumawe lagi melatih diri untuk hidup mandiri
Dua tahun ya ambil cutinya. Sebuah semangat yang salut saya. Dulu waktu kuliah, saya juga ambil cuti setahun untuk kerja dulu sebagai jurnalis sebuah koran daerah.
Saya juga menduga pertama ini cuti paling setahun, ternyata pas 2 tahun ustadz. Luar biasa emang ini utk benar-benar menguasai pekerjaan itu secara profesional
keren dan penuh motifasi
terima kasih Andika :0
memang hrus lebih kreatif ya zaman sekarang…
thx for sharing gan…salam kenal
betul gan, yg namanya kreatif itu tidak saja menghasilkan ide baru tapi juga termasuk dalam mengasah profesi lebih baik dan profesional
tetap semangat kembangkan kreasi
makasih mas bibit
Berdikari sejak usia muda. Siapa tahu penghasilan dia malah lebih besar dari orang kantoran rata2. Semoga sebagai value added, dia juga menyediakan fasilitas pijat kepala saat memangkas rambut pelanggan
sip, nanti kalau saya pangkas lagi bisa saya bincang-bincang lagi nih untuk jasa tambahan untuk