
Ilustrasi: stmarysblackburn.ac.uk
MOLLY Norris, namanya kian memanas di jejaring sosial dua hari belakangan ini termasuk disitus kenamaan Facebook yang menuai protes dari berbagai kalangan akibat ulahnya ikut serta dalam event atau lomba karikatur Nabi Muhammad di Facebook.
Dari situs resminya, Norris akhirnya meminta maaf kepada semua umat Muslim di dunia. Tidak hanya itu, sebagai bentuk penyesalannya, Norris juga membuat kampanye menentang group Facebook yang telah dia buat yang berjudul I joined “Against Everybody Draw Mohammed Day” on facebook.
Kalau dilihat, memang penyesalan selalu datang belakangan. Sementara itu diberbagai belahan dunia, umat Islam telah melakukan berbagai aksi. Pakistan salah satunya yang mengambil langkah memblokir Facebook dan juga YouTube. Sedangkan, negera Indonesia masih saja sibuk dengan urusan pendapat/surat menyurat dan lain sebagainya.
Terkait hal ini, Norris sebagai salah seorang kartunis asal AS mengakui memang menerima banyak email soal ajakan menggambar Nabi yang menurutnya hanya bercanda itu. Terhadap pihak yang marah karena Norris tidak mau meneruskan ajakan itu, sang kartunis mengatakan justru email-email yang paling berkesan dikirim oleh umat Islam, seperti yang dikutip oleh detiknews.com.
Teror Facebook
Dampak Facebook sebagai media yang ‘netral’ belakangan ini memang telah membuat berbagai kontroversi, terutama di negerinya sendiri. Bahkan berbagai kalangan menilai Facebook telah melenceng dari aturan yang ada, termasuk membuat penipuan dan juga perdagangan data-data dari penggunanya.
Sementara itu, Vice President for Public Policy Facebook, Elliot Schrage, juga ikut menanggapi berbagai pertanyaan-pertanyaan seputar hak-hak privasi konsumen, dikutip dari PC World dan New York Times. Paling tidak terdapat 3 kebohongan yang dilakukan selama ini:
Pertama
Saat ditanya kenapa Facebook tidak membuat semua setelan privasi di Facebook sebagai ‘Opt-in’ alias seluruhnya ‘private’ kecuali pengguna menginginkan dan mengubahnya menjadi ‘public’, Elliot memberikan jawaban dan argumen yang ‘memukau’.
“Semuanya opt-in di facebook. Bergabung ke Facebook adalah pilihan. Kita ingin agar orang-orang terus menggunakan Facebook setiap hari. Menambah informasi, mengunggah foto, memposting status baru, menyukai sebuah laman. Semuanya Opt-in. Silakan jangan berbagi informasi, bila Anda tidak nyaman.”
Padahal, saat bergabung ke Facebook, sebagian besar data-data pengguna baru seperti biografi, interest, postingan, friend, family, relationship, lokasi, edukasi dan banyak lagi, akan langsung terpublikasi oleh publik, karena default setting-nya adalah ‘share with everyone’. Ini merupakan model ‘Opt out’, bukan ‘Opt in’.
Kedua
Saat ditanya bagaimana bila pengguna menghapus akun Facebook mereka, Elliot mengatakan bahwa pengguna bisa melakukan penghapusan secara permanen. “Bila Anda sudah tidak mau menggunakan Facebook lagi, Anda bisa menghapus akun Anda. Penghapusan ini adalah permanen, dan akun Anda tidak akan bisa diaktifkan kembali. Saat kami memproses permintaan penghapusan akun, kami langsung menghapus seluruh informasi yang terkait dengan akun tersebut. Message dan postingan di dinding akan tetap, tapi teratribusi dengan pengguna Facebook anonymous. Konten yang dulu Anda buat, tidak bisa diakses di Facebook, dan tidak di link ke informasi pribadi Anda di manapun.”
Faktanya, apa yang dikatakan Elliot tidak benar. Saat hendak menghapus akun Facebook, pengguna tidak akan mendapatkan tawaran opsi untuk menghapusnya secara permanen. Yang bisa Anda lakukan cuma ‘deactivate’. Tombol ‘delete account’ tak akan bisa dijumpai dengan mudah. Pengguna musti pergi dulu ke Help Center dan melakukan pencarian ‘delete account’ sehingga akan membawa Anda ke laman FAQ.
Ketiga
Elliot mengatakan bahwa keamanan pengguna Facebook terjaga. “Untuk sebuah layanan yang bertumbuh secara dramatis, kami menangani lebih dari 400 juta orang untuk berbagi miliaran kepingan konten kepada teman-teman mereka serta institusi yang mereka perhatikan. Kami pikir, rekam jejak kami untuk masalah sekuriti dan keamanan, tidak tertandingi,” kata Elliot.
Selengkapnya mengenai kebohongan tersebut bisa anda baca di Tiga Kebohongan Facebook Tentang Privasi. Tidak hanya itu, Federal Trade Commission juga mengambil kebijakan dalam masalah privasi ini terhadap Facebook, mereka juga menyebarkan isu ini dalam bentuk .pdf (bisa diunduh) yang berjudul Complaint, Request for Investigation, Injunction, and Other Relief.
Walaupun banyak dari Facebooker yang mengundurkan diri dari Facebook dengan datangnya isu pelecehan agama tersebut, namun Facebook itu tidak haram, hal ini juga ditambahkan oleh Ketua MUI KH. Amidhan, MUI tidak mengharamkan Facebook karena ia hanyalah alat yang bersifat netral. “Kalau ada Facebook yang isinya tidak baik dan mengandung fitnah, ya harus ditutup,” pungkas Amidhan seperti yang dilansir oleh inilah.com.
Lalu, adakah jejaring sosial yang ‘lebih baik’ dari Facebook dari segi priviasinya? jawabannya ada, dan jejaring sosial-alternatif-tersebut adalah yang kini sudah banyak ditinggalkan orang, yakni Friendster. Selain itu, masih ada juga Bebo, Hi5, Orkut, Ning, Netlog dan masih banyak lainnya, tapi sayang kepopuleran mereka di Indonesia hanya ada sesaat dan bahkan banyak pengguna internet tidak tahu tentang keberadaan situs tersebut, terlebih pengguna yang berusia remaja (ABG, -pen) dan juga pendatang baru di dunia jejaring sosial pertemanan.
Jadi, jangan berkecil hati bagi anda yang sudah ‘memutuskan’ hubungan dengan Facebook, masih ada jalan lain merajut pertemanan di Facebook. Selamat menikmati![]
Tulisan ini juga bisa anda baca di halaman pribadi saya di Kompasiana.com yang berjudul Molly Norris dan Teror Facebook.
Filed under: Blogging, ICT, Internet, News Tagged: | Amerika Serikat, Facebook, Federal Trade Commission, Friendster, Jejaring Sosial, Karikatur, Kartunis, Molly Norris, Nabi Muhammad, Ning, Social Media










memang FB hanyalah alat baik buruknya tergantung yang memanfaatkan alat tersebut
betul sekali mas sunarno
ini memang membutuhkan penilaian yg serius dari setiap pemakaianya
Setuju banget bro!!!
FB hanyalah media,
semuanya tergantung dari user(pengguna)
if u don’t want to be exposed, don’t Facebook!!! That simple…
need IT??
http://www.linovtech.com
malah efek jera seperti Friendster yang pernah ditinggalkan, padahal disana dulu sangat jarang isu SARA berkembang, tapi rata-rata orang pindah sangking trend merajai
yah..tergantung nyang make…
nb: maaf ya..lama ga berkunjung.inet lagi lemot bnaget..
biasanya pemakai sekarang juga menganut aliran ‘ikut-ikutan’ dan mereka sendiri juga tidak mengerti apa yang sedang dihadapkan
miris juga sebenarnya!
tidak apa2, yg penting blogwalking masih bisa
di antara sekian media sosial yang ada, popularitas fb agaknya belum terkalahkan, mas aulia. sayangnya, banyak pengguna yang terlalu sembrono, sampai2 soal SARA pun diangkat-angkat ke permukaan,
mungkin belum terkalahkan Pak, tapi nanti akan terlihat sepertinya dipenghujung tahun 2010, bagaimana nasib Facebook khususnya di negeri kita ini dengan sekian banyak pro kontra yang ada sekarang ini
dasar manusia…
manusia itu juga memiliki dua sisi, tapi sayang sisi satu terlalu mengganggu manusia yang lain, jadi beginilah akibatnya :’(
klu di pake untuk kebaikan ya insya Alloh akan bermanfaat, trgantung yg make,….
Malah banyak juga di FB kita menemukan mereka yang berdakwah, tentu ini juga sebuah manfaat yang nyata bagi teman-teman dunia maya
emang sebelum digedok untuk ngadakan event itu tidak dipikir dulu …..???
katanya sih, awal-awal mereka hanya iseng saja membuat event itu, namun pada ujungnya berbuah protes.
~iseng kok nyinggung agama, saya juga bingung sama orang seperti itu
tergantung yang pakai juga sieh…tergantung pribadi masing-masing ..namun hoby ikut-ikutan ituloh yang harus dihentikan
Nah, hobi untuk ikut-ikutan itu mulai digemari di awal-awal tahun 2008 (walaupun secara keseluruhan banyak ditemui mereka yang ikut serta dengan hobi ini adalah usia-usia remaja atau yang baru mengenal dunia jejaring sosial)
semangattt
sama-sama ossmed
Mudah2an kejadian serupa tidak selalu terulang. Menyedihkan kalau FB hanya digunakan untuk melakukan penghujatan thd agama
Ya, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.
norris kurang kerjaan, main2 begituan…
masalah bermain dengan unsur SARA lagi, parah memang.
Untuk Facebook Islami dari Pakistan suda hadir MillatFacebook.com