
ilustrasi by hdmessa.wordpress.com
Aneh mungkin, jika bagi seorang laki-laki dalam memaknai bahwa seorang wanita telah siap menjadi seorang Ibu, padalah dia belum menjadi seorang istri. Malah sekarang ini banyak wanita setelah siap menjadi istri belum siap menjadi ibu untuk kedepannya.
Ini adalah kisah yang sebenarnya ada disekitar kita, dan bahkan mereka para sesamanya (wanita, -pen) juga mungkin luput dari perhatiaan kaumnya sendiri.
Hmmm, kenapa saya terpikir dengan hal yang kecil ini? awalnya hanya sebuah pertanyaan biasa. Setelah saya mengingat ulasan-ulasan dari komentar orang-orang yang pernah mengunjungi blog saya, lalu terpikir dengan secuil ide itu bisa ada bila kita mampu untuk menulisnya dan memberikan atau sekedar membagi kepada orang lain supaya sejarah itu tidak lepas begitu saja.
Akhirnya, setelah mengingat kata-kata tersebut saya terbuai dengan sebuah judul diatas saat berada di tempat yang tidak baik untuk disebutkan disini (rahasia, -pen). Judul di atas berawal dari hal kecil dengan chating bersama teman SMA saya dulu, dengan sedikit pancingan teman saya yang kebetulan seorang wanita berparas indah itu mengatakan bahwa “Eh ol (panggilan saya saat SMA dulu, -pen) tahu gak?, aku sudah punya anak lo!”, dalam pikiran saya bertanya “emang ni orang kapan married ya?”.
Tanpa harus memendam pertanyaan itu, saya langsung lontarkan kepadanya karena saya pikir dia adalah sobat saya juga, jadi saya tidak begitu berat hati untuk mengklarifikasi pernyataannya. Memang itu hal biasa bagi wanita seumuran saya untuk siap berkeluarga, toh wanita biasanya lebih cepat nikah dibandingkan para kaum adam (benar gak sih pembaca?).
Cerita demi cerita terus bersambut di chating, pertama dugaan saya dia sudah berkeluarga dengan suaminya tecinta dan ternyata satot alias salah total praduga saya itu. Kemudian, saya berpikir apa si ibuknya sobat saya ini sudah punya anak lagi ya, namun alasan saya yang kedua ini tidak beragumen kuat untuk untuk mendukung dugaan yang kedua, karena kenapa juga si sobat saya ini menyebutnya bahwa dia punya anak, kalau emang si ibunya punya anak pasti akan disebutnya sudah punya adik lagi.
Investigasi kecil belum berakhir kawan, akhirnya setelah saya ‘dikerjain’ dengan seratus tanya (kalau seribu tanya mungkin kebanyakan) sang sobat pun buka kartu. Dan menjelaskan kepada saya detail demi detail kronologis awal sang ibu bertemu dengan anak yang disayanginya sekarang ini.
Oiya, sebelumnya anak si sobat saya ini kebetulan seorang pria tampan dan cakep, begitulah tutur sang sobat saya ini untuk meyakinkan saya. Jadi, berita asli yang dikonfirmasi keluarlah dari mulut dia. Berawal dari sebuah tugas yang dia emban sekarang ini menjadi abdi negara di pelosok ujung sumatera sana, sobat saya ini ternyata bertemu dengan seorang ibu (ini beneran ibu dan juga istri orang). Nah, dari situlah sobat saya ini mulai merasakan sesuatu atau mudahnya tergerak hati melihat seorang bayi dari si ibu aslinya tadi.
Tanpa harus bertahan lama, sobat saya mengurungkan niat untuk bercakap-cakap dengan ibu tadi. “Ibu, ini anaknya ya?”, tutur sobat saya dengan nada lembut. “Iya ini anak saya, baru tiga bulan umurnya”, jawab sang ibu dengan ramahnya.
Terus berlanjut pertanyaan demi pertanyaan dan sampai pada jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh si ibu anak itu. Dan terakhir, sobat saya mulai melepas keinginan awalnya yakni meminta kepada si ibu agar anaknya bisa dirawat dan dijaga serta diasuh menjadi anaknya sobat saya ini.
Ternyata si ibu dengan satu dan alasan lainnya (kebetulan alasan konkrit saya belum tahu pasti, bukan intel sih saya jadi kurang tahu cara untuk mengorek info tersebut) memberikan restu untuk diasuh anaknya oleh sobat wanita saya ini.
Terpancar rasa gembira yang tidak ternilai harganya dari wajah sobat saya ini, dan mulailah hari demi hari disela-sela menjadi orang abdi negara, sobat saya telah jatuh cinta sangat dengan buah hatinya tersebut. Walaupun anak yang diasuhnya sekarang bukan dari rahim dan waktu sembilan bulan yang dirasakannya untuk mengandung, sudah sangat membuat kata hati sobat saya ini mejadi ibu yang benar-benar cinta kepada anak.
Malam-malam yang terlewatkan, hari-hari yang kian silih berganti membuat sobat saya ini merasa menjadi ibu sebelum menjadi istri dari calon suaminya yang sah (insyaAllah sudah ada calon suaminya sesuai dengan keputusan Tuhan saat 4 bulan dalam kandungan ibunda tercintanya dulu).
Saya sungguh terkesima dengan sobat saya ini, yang masih muda sudah sangat berani untuk berpijak mengambil keputusan dengan mejadi seorang ibu walaupun kiranya belum menjadi seorang istri. Malam minggu yang sepi kini menjadi riang bersama anak yang diasuhnya, belaian kasih sayang yang mungkin dulu belum ada kini menjadi terbiasa dengan sendirinya.
Tidak lepas dari itu semua, sobat saja tentu akan belajar dan belajar dengan menjadi ibu yang baik. Diantara dari sekian kepolosan masa dewasa yang kian meranjak untuk menjadi ibu yang semakin bijak dan cinta kepada anaknya.
Kadang, saya juga berpikir saat menulis tulisan yang tidak begitu bagus ini. Masih adakah wanita seperti dia yang rela terbagi waktunya untuk kerja, mengurus diri, anak dan lain sebagainya, melepaskan masa kebebasannya diantara cewek-cewek lain yang bertebaran di muka bumi pergi dan lupa dengan apa yang telah dilakoninya sewaktu-waktu.
Kadang malah menjadi seorang wanita yang hanya ingat dunia dan trend untuk pacaran dengan berbagai dalih membolehkannya. Sungguh sayang, ketika sebuah nilai cinta dan kasih sayang dilecahkan oleh para pemuda-pemudi penerus bangsa. Menjatuhkan diri kejurang pemisah antara yang sah dan yang haram.
Kita masih ingin wanita yang kuat dalam segala medan, petikan moral yang ada dan tanggung jawab dari kisah di atas yang saya uraikan tersebut hanya sekelumit dari saksi kehidupan yang ada di sekeliling mata sejauh kita memandang. Masih banyak hal lain yang belum bisa kita ambil nilai yang arif, membagikan kasih sayang dan cinta yang merupakan fitrah dari sang Khalik sungguh luar biasa. Allah Maha Besar dengan segala karunia dan berkah yang diberikan kepada semua hamba-Nya.
Akhir kata untuk penutup tulisan ini saya ucapkan selamat sobat, semoga dirimu menjadi Ibu yang baik layaknya seorang istri yang telah mempunyai buah hatinya. Dan jangan lupa, titip salam saya untuk anak mu itu walaupun sekarang dia belum bisa membalas salam saya ini. Cepatlah tumbuh dan bersegeralah dewasa dari setiap kasih sayang dari ibunda mu tercinta sekarang dan ingatlah kepada ibunda yang lebih dulu melahirkan mu karena dia menjadi saksi atas surga yang berada di bawah telapak kakinya. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kalian semua! Amiin.[]
Filed under: Fiksi & ~Fiksi, Kampus, Renungan | Tagged: Ibu, Istri, Wanita











Kebahagiaan hidup bukan menerima tapi memberi, sungguh berberbahagia orang-orang dengan kualitas luar biasa dan memberi arti pada kehidupan orang lain
semoga ini bisa menjadi renungan yang berarti abu buat siapa pun dia…..
salam kenal,
jadi inget ibu di rumah ne…….hehehehheeee
http://aceh2day.com
salam kenal juga syedara
heemmm, pengeen punya anak jadinya aul hehehe… ^-^
eh mampir blog gw yg baru aul. http://greehnfhii.wordpress.com yg lama seh msh ada cmn di pindahin ke wordpress..
belum pengen sih, kuliah ja belum kelar fhii…
tu kan buat renungan para ibu-ibu
Tahukah anti, banyak pria mencari wanita yang keibuan. Semoga anaknya menjadi generasi sholihin. Salam kenal dan salam hangat http://www.indonesiamenulis.com
salam kenal juga buat bung Rusli
tUKAR lINK YUK mBAK…..
hebat ya sobatnya. Sudah siap jadi ibu, apalagi jadi isteri.. Sungguh beruntung calon suaminya..
apa bung Jaya berminat
)
Semoga Allah memberikan yg terbaik buat kalian semua.
Untuk Aulia mana??
Aulia.. Narit bacut beuh!
Itu Doa, lubeh pah lom Ana wa la hum(aku dan kalian).
Bermula proteh itu mudah..
Meuah Beurayeuk that.
Saleum meuchen.
teurimong geunaseh syedara meutuah
hmmm sekarang banyak yang jadi ibu tapi belum siap, nah lo!
berarti si ibu harus banyak belajar sebelum masuk ke dalam jenjang tersebut
tulisan yang sangat menarik aul,
sayang yang nulisnya ikhwan, sehingga ga berasa muhasabahnya…
ntar saya bikin postingan juga deh… Judulnya “Siap Jadi Bapak Sebelum Jadi Suami”
hehehe
bagusnya juga man, kalau sudah posting…
jangan lupa bilang-bilang ya