image by bahtiar.jeeran.com
Bukan kata sombong dan bangga, dan bukan pula ini yang kita punya. Sekeras apa pun batu tetap bisa retak juga, kata yang sungguh berarti ini adalah Aceh Tidak Takut Mati.
Seberapa banyak anak muda-mudi sekarang yang masing ingat dengan sejarah Aceh dulu, masih ingatkah mereka tentang jiwa heroisme yang dimiliki oleh para ulama dan ulee balang yang mempertahankan tanahnya sendiri dari tangan penjajah yang laknat. Masih ingatkah mereka saat orang-orang Aceh dihasut oleh mata-mata Hindi Belanda Dr. Snouck Hurgronje sampai-sampai Teuku Umur sang pahlawan berbelot kepada Belanda, walaupun akhirnya pembelotan menjadi senjata makan tuan bagi pihak Belanda.
Tentu masih banyak kenangan lama, cerita luka dan bersejarah yang luput kini dari perhatian anak muda-mudi generasi bangsa Negeri Aceh Raya Darussalam. Tidak ada guna kita genjar-genjar berilmu tinggai dan berjabatan besar jika harkat dan martabat akan tanah kelahiran kita dibuang begitu saja.
Tidak perlu kita menuhankan akan sejarah yang lalu, tapi hal yang kecil dari apa yang telah diperjuangkan oleh para orang terdahulu bukan untuk ditepis oleh jaman yang serba mewah ini. Duka dan sedih ini bisa saja mewarnai akan kehidupan bangsa Aceh yang kita lihat sekarang ini, tragedi demi tragedi, pembantaian-pembataian sampai puncak dengan permusuhan antara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi saksi akan sebuah sejarah.
Kenapa harus mengungkit akan sejarah yang lalu, kenapa tidak melihat hari yang lebih baik di masa mendatang. Antara dua mata pisau yang bisa kita ibaratkan, disaat membutuhkan sebuah kemampuan dan keutuhan kita berpijak dengan mata pisau yang tajam serta disaat nyawa terancam mata pisau pun menjadi pelindung sesaat walaupun bukan selamanya, harapan bisa bertahan dan berlindung masih bisa kita pertahankan.
Tuhan tidak akan menanyakan siapa pahlawan bangsa mu dulu, Tuhan juga tidak akan bertanya siapa Raja atau Sultan bangsa mu dulu, tapi Tuhan akan menanyakan apa yang kamu buat untuk agama mu demi membela tanah kelahiran mu.
Mati membela nilai agama dan melawan kebatilan bagi mereka berarti syahid. Dan, landasan keagamaan yang paling populer di dalam melakukan perlawanan adalah al-Qur’an surat IV, ayat 76: ”Lantaran itu hendaklah mereka yang menjual akhirat dengan penghidupan dunia, berperang pada jalan Allah, karena barangsiapa berperang pada jalan Allah lalu terbunuh atau menang, maka Kami akan beri kepadanya ganjaran yang besar.” (Peristiwa Cumbok di Aceh, Anwar Daud & Husaini Husda)
Tulisan ini sebagai bentuk dari dedikasi terhadap apa yang kita lihat selama ini dari semua kejadian yang ada di Tanoh Endatu Seuramo Mekkah.
Filed under: Aceh Hari Ini, Agama, History, Renungan | Tagged: Aceh, Dr. Snouck Hurgronje, Muda-mudi, Negeri Aceh Raya Darussalam, NKRI, Sakit Jiwa, Ulama, Ulee Balang











gambar-na bikin takut aja..
itu hanya sebagai ilustrasi saja
Typo Ul: NKRI == Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seingat saya waktu baca buku2 sejarah(termasuk yg diluar buku sekolah), wilayah Indonesia yang paling terakhir dikuasai belanda adalah Aceh.
Kalau tidak salah lagi, Aceh dikuasai belanda “hanya” 20 tahun. Beda jauh sama wilayah2 di Jawa.
Kunci utama mengapa pertahanan Aceh begitu kuat adalah karena sifat masyarakat Aceh yang tidak “kraton sentris”. Hal tersebut berbeda sekali dengan kebanyakan kerajaan di Indonesia, apabila keraton berhasil ditaklukkan maka seluruh wilayah kekuasaan kraton itu juga takluk. Hal ini tidak berlaku di Aceh.
Bagaimana kabar Aceh sekarang?
Makasih gung atas koreksi di atas.
Memang Belanda cukup lama menguasai Aceh lebih dari 30 tahun (salah kaprah jika ada orang mengatakan 3,5 abad) dibandingkan Jepang.
Kalau apa kabar Aceh sekarang!, menurut saya sendiri sedang ‘tidak baik’ bukan dalam arti keamanan melainkan dalam dilema panjang kehidupan orang-orang yang makin hari menjadi semakin ironis terhadap perjuangan dari leluhurnya untuk membawa bangsa menjadi lebih makmur dan aman sejahtera dalam lingkup Seuramo Mekkah.
Lihat saja berita diberbagai media massa dengan kejadian yang berlaku, maksiat, perjudian, sampai ke tingkat yang tidak bisa diterima logika sekarang sudah menjamur di Nanggroe.
Hal seperti inilah yang membuat saya pribadi prihatin, dan tentu salah satu cara untuk bisa mengembalikan nilai moral yang baik adalah beranjak dari pribadi sendiri, keluarga dan kemudian orang-orang disekitar kita!
Pelajaran sejarah tampaknya perlu digalakkan lagi, sayangnya anak-anak sekarang (sok tua nih
) banyak yang gak suka belajar sejarah dan agama.
Gak sok tua itu bang, tapi yang abg bilang memang benar!
Sarana pendidikan menjadi salah satu media untuk tetap bisa memperkenalkannya pada semua adik2 dan anak2 kita nanti
Btw, ‘Pertistiwa Cumbok di Aceh’ itu buku? Ada di pasaran enggak, Aduen? [ sudah lama gak masuk toko buku
] Kalau tidak salah itu perang ‘rakyat’ dengan ‘ulee balang’?
Salam
Kalau gak salah saya sih buku, saya cuma baca softcopy aja, penerbit dari Dinas Kebudayaan Prov. NAD.
Perang Cumbok itu perang antara ulee balang dan para ulama Aceh akibat dari konspirasi pihak Belanda yang mengadu domba orang Aceh.
that’s why we always need to be proud become acehnese..
K
because this i’am, you and anybody
mantab bang artikelnya sip…
makasih om
aceh lon sayang sampo ‘oh matee
meutuah that gata rakan, saleum keu syedara Hasan
Na sejarah prang cumbok, pak aulia…
kiremlah keu Abu softcopynya ya
bak milvan_murtadha@yahoo.com
Terimong Gaseh…
insyaAllah, tapi cuma untuk arsip pribadi manteng teungku beh. Sabab hanjeut ta sebarkan barang kahoe buku nya, copyright ureueng peuget payah tajaga cit.
Dear Aulia,
Peu haba Aceh sekarang? Saya dulu lahir dan tinggal di Lhokseumawe selama 10 tahun. Tahun 1999, saya dan keluarga eksodus ke Jawa karena keadaan Aceh semakin genting. Saya cukup kangen dengan tanah kelahiran saya tersebut, dari kulturnya sampai Mie Aceh di Pasar Batuphat meski secara “ras” saya bukan orang Aceh.
Saya ingin berdiskusi dengan Anda mengenai hal tulisan Anda, saya kutipkan:
Kenapa harus mengungkit akan sejarah yang lalu, kenapa tidak melihat hari yang lebih baik di masa mendatang. Antara dua mata pisau yang bisa kita ibaratkan, disaat membutuhkan sebuah kemampuan dan keutuhan kita berpijak dengan mata pisau yang tajam serta disaat nyawa terancam mata pisau pun menjadi pelindung sesaat walaupun bukan selamanya, harapan bisa bertahan dan berlindung masih bisa kita pertahankan.
Seperti yang kita ketahui, tersimpan sejarah “pembantaian” rakyat Aceh oleh Tentara Indonesia atas nama “NKRI” atau “nasionalisme” atau apalah era Soeharto sampai Megawati. Apakah itu lebih baik kita berpaling dari yang telah terjadi di masa lalu? Banyak sekali kejahatan kemanusiaan yang belum diselesaikan, atau tidak jelas kebenarannya. Bukankah korban pelanggaran HAM itu memiliki hak untuk mengetahui kebenaran (rights to know the truth)?.
Saya rasa penyelesaian itu tetap perlu, Aulia. Gunanya agar kejadian serupa tidak terulang, karena yang lalu itu telah dinyatakan “salah”. Plus, memutus lingkaran atau budaya impunitas. Mungkin ini terlalu normatif, tapi yah, saya yang pernah tinggal di sana, merasa lebih baik pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu diselesaikan, memutus lingkaran impunitas. Bukankah setelah Orba runtuh, telah lahir berbagai instrumen hukum mengenai HAM? Misalnya saja UU No Pengadilan HAM No.26 Tahun 2000. Terdapat pasal yang mengatur mengenai pengadilan Ad Hoc (di Indonesia baru ada untuk kasus Timor Timur dan Tanjung Priok)
Masa lalu itu tidak pernah akan mati. Tidak diungkitpun,ia tetap ada, dan akan selalu membayangi. Apalagi bila ia telah menjadi teks. Saya rasa, Aceh akan lebih kuat dan kokoh sebagai daerah yang sangat istimewa di Indonesia ketika berbagai pelanggaran HAM di masa lalu diobati dengan hukum yang ada.
Masa lalu bisa dijadikan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan?
Bagaimana pendapatmu?
Saya senang bisa bertukar pikiran dengan orang Aceh. Lon sayang Aceh (benarkah ejaannya?)
Saleum.
Salam kenal buat syedara Yohard
Baru kali ini saya mendapat sebuah komentar yang lebih kurangnya hampir sama seperti isi dari tulisan (hehehe), saya sangat menghargai ini.
Masa lalu bisa dijadikan pelajaran berharga untuk menatap masa depan, bukan?
Tentu ini sangat berharga dan lebih lagi adalah bukti sejarah bangsa Aceh.
Sebenarnya tulisan saya yang menyebutkan “Kenapa harus mengungkit akan sejarah yang lalu, kenapa tidak melihat hari yang lebih baik di masa mendatang”, ini tidak lain ada sebuah stimulus bahwa saya ingin melihat sebesar apa orang masih tahu akan sejarahnya bangsanya dalam kontek ini adalah Aceh contohnya.
Memang saya miris sekali, cukup banyak fakta sejarah yang telah hilang (dihilangkan jejak oleh kalangan tertentu), padahal semua kita tahu setiap orang yang lahir di dunia ini adalah berhak untuk hidup dan dilindungi, tapi kenyataan semua dikaburkan oleh orang-orang yang berkepentingan.
Mungkin itu saja dulu yang bisa saya uraikan, nanti kita bisa saling bertukar pikiran lagi syedara.’
Lon sayang Aceh, masih benar itu dan sangat tepat sekali. Coba gabung2 juga ke Komunitas Blogger Aceh bang di http://acehblogger.org, siapa tahu kita bisa belajar lebih banyak dan bertukar informasi dengan kawan-kawan Aceh lainnya.
Saleum Blogger!