Perisitiwa fenomenal sepanjang sejarah hidup Baginda Rasulullah SAW di antara kebimbangan manusia yang jauh di luar perkiraan, akhirnya dengan izin Allah SWT Nabi bisa menjalani perjalanan bersejarah tersebut. Hari ini, begitulah tema yang disampaikan khatib jum’at (25/7) di Mesjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Depok.
Melihat peristiwa ini menjadi yang sangat berharga bagi umat Islam, maka saya kutip sebuah tulisan di wikipedia.org yakni sebagai berikut:
Isra Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 Hijriah. Pada peristiwa Isra Mi’raj dapat dikatakan terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad SAW “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat lima waktu.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.
Banyak hal menarik dan hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa tersebut, selain ditetapkannya shalat 5 waktu serta keajaiban pintu langit yang Maha Kuasa dengan kehendak Allah mengutuskan para Nabi-Nya untuk menjaga sampai ke sidratul muntaha serta mukjizat-mukjizat yang luar biasa.
Di setiap langit ketika Jibril membawa Muhammad selalu meminta izin kepada para Nabi yang mengawasinya, pada langit pertama di jaga oleh Nabi Adam as; pada tingkat langit ke dua di jaga oleh Nabi Isa as dan Yahya as; pada lapisan langit ke tiga pun ada Nabi Yusuf as dan Nabi Idris as pun berada langit ke empat; kemudian pada lapisan langit ke lima Nabi pun berjumpa dengan Nabi Harun as. Diatas Nabi Harun as pun ada Nabi Musa as pada langit ke enam serta pada langit terakhir di lapisan ketujuh yakni Nabi Ibrahim as. Dimana dilangit terakhir inilah kelihatan Baitul Ma’mur tempatnya 70.000 Malaikat menunaikan shalat.
Setelah melewati dari tiap langit dan lapisannya, maka yang terakhir itulah yang dinamakan dengan Sidratul Muntaha dimana diperlihatkan kalam-kalam dan sungai-sungai seperti di sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir. Bukan itu saja, Nabi juga diperlihatkan Surga oleh Jibril dan disitulah Nabi kita Muhammad SAW melihat wujud aslinya Malaikat Jibril.
Akhir dari perjalanan Nabi dari tujuh langit dan sidratul muntaha ini adalah diterimanya perintah shalat wajib seperti yang kita laksanakan sekarang ini lima kali dalam sehari semalam.
Demikian ringkasan yang masih saya ingat dari khutbah jum’at kemarin, semoga ada manfaatnya dan jangan lupa shalawat dan salam keharibaan Nabi Besar Muhammad SAW tidak pernah putuh dari mulut kita. Mohon maaf atas segala kekurangan dari isi dan ringkasan ini serta terima kasih buat semua yang telah membacanya.
Filed under: Agama, History, Renungan | Tagged: Jibril, Malaikat, Muhammad SAW, Nabi Adam as, Nabi Harun as, Nabi Isa as, Nabi Yahya as, Nabi Yusuf as, Shalat, Sidratul Muntaha











subhanallah!
Allahuakbar..semoga syedara senantiasa gebri kelimpahan nikmat oleh po ta Allah SWT…
Adakah yang perlu diperbaiki dari Materi Dakwah Islam ?? Bisanya di Negeri ini koruptor begitu banyaknya, dan …. tak habis..habisnya
Bahan renungan … dimana ada kesalahan.
Salam
Ya, benar. Materi dakwah yang perlu disampaikan beragam rupa dengan metode dan teknik yang ada.
Melihat orang awam dulu mengajari anaknya dengan sekarang bisa jadi sebuah perbedaan yang ada.
[...] Sebagai penutup, masih terlalu luas buah hikmah lain yang dapat kita petik yang tidak sanggup dijelaskan hanya dalam sebuah tulisan ini. Silahkan mencari artikel terkait yang sejenis di luar sana. Seperti salah satu tulisan yang ditulis teman saya misalnya. [...]
baru kemaren membahas masalah ini…
Di sini saya mau bilang, bahwa saya mau minta maaf, karena esok mau puasa….di maafin ngak.
wassalam.wr.wb. marhaban ya ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan bathin, semoga kita semua dalam lindungan Allah.SWT, amin..
subhanallah maha besar allah..
sepatutnya kita mengagungi kebesaran-NYA