Wahai Para Gadis
Hari ini saya akan membicarakan sebuah realita yang mungkin semua wanita akan melewatinya atau pun bagi mereka para lelaki juga. Namun, kali ini tulisan ini khusus buat mereka yang mengaku diri wanita/para gadis yang sejati akan fitrahnya.
Langsung saja dengan topiknya, siapa sangka kalau film AAC (Ayat-Ayat Cinta) menjadi film bioskop terlaris selama hampir 2 bulan mendatang ini yang menurut info di berbagai media dan sutradara sendiri sampai saat ini AAC the movie telah mencapai penonton lebih dari 2 juta orang di seluruh Indonesia.
Sebuah penghargaan yang luar biasa tentu bagi Hanung dengan berbagai komentar yang cukup luar biasa juga, lihat saja di postingan awal saya ini.
Hal yang menarik disini adalah ketika film AAC ini menjadi momok atau bahan pembicaraan ketika hal yang tidak biasa diangkat ke dalam layar lebar atau bioskok menjadi sesuatu yang “biasa”. Siapa sangka bila tema poligami menjadi bahan omongan dalam film ini.
Saat-saat saya browsing di sebuah situs ini, khususnya di bagian topik tanya jawab dengan ustadz Ahmad Sarwat. Lc dalam hal nikah. Terlintas sebuah judul yang saya kira hanya pertanyaan biasa saja, namun setelah melihat isi pertanyaannya ternyata berhubungan erat dengan AAC.
Sebegitu tingginya rate film ini menjadi bahan pertanyaan bagi para ustadz/ustadzah pengasuh di berbagai situs Islami di Indonesia bahkan diberbagai kajian-kajian para pemuda-pemudi diberbagai institusi. Sehingga menuntut para ustadz pun harus sedikit gesit memantau film-film yang bertema Islami ini agar tidak salah dalam memberikan jawaban. komentar atau pun alasan.
Hal yang menarik dari pertanyaan diatas dalam rubik tersebut mungkin saya tidak begitu membahas pada isi poligaminya, melainkan jawaban dari pertanyaan tersebut yang isinya sungguh membuat saya membaca berkali-kali.
Dimanakah hal tersebut yang membuat saya mengulang beberapa kali akan maknanya? tepat di bagian solusi yang diberikan oleh Ahmad Sarwat yakni seorang anak gadis seharusnya sangat dekat dengan ayahnya.
Namun, bagian apa yang bisa menjadi paling menarik dari jawaban itu? saya akan menjawab bagian preogratif-nya seorang Ayah bagi kebahagiaan anak gadisnya. Memang kita sering identik dengan kata preogratif pada lembaga pemerintahan yakin seorang presiden atau sebut saja elemen-elemen tertinggi disemua kalangan.
Tetapi seorang Ayah atau Bapak tentu juga seorang pemimpin kecil bagi keluarganya sendiri maupun bagi dirinya sendiri. Dimana sebagian kita mengenal memang sosok seorang Ayah itu lebih “rendah” prioritasnya dibandingkan pengorbanan seorang Ibu, siapa yang tidak tahu hadist Nabi tentang siapa yang harus kita hormati yang lebih tinggi dalam sebuah keluarga, hadist ini salah satunya: Bahz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya berkata: “Saya tanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, siapakah harus saya taat?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Kemudian siapakah? tanya saya lagi. Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Saya bertanya sekali lagi dan Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya saya lagi.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ayahmu, kemudian yang terdekat dan yang dari kerabat”. Ibu dalam hal ini memiliki hak utama sedangkan untuk Ayah hanya 1 kali bandingan saja (3:1).
Sebelumnya saya minta anda untuk tidak berpikir macam-macam (negative thinking) tentang paparan perbandingan Ibu dan Ayah tersebut, bukan maksud disini saya merendahkan hak seorang wanita lebih hina dari pada lekaki atau pun sebaliknya. Itu hanya sebagai penguat saja tentang hak preogratif seorang Ayah pada pertanyaan di atas saja. Oke!!!
Terus hal menarik lainnya adalah ketika seorang wanita atau muslimah dalam jawaban ustadz Sarwat mengatakan bahwa “Maka bagi seorang wanita muslimah yang aktifis, perlu diingat bahwa semua aktifitas Anda menjadi seorang kader atau aktifis, akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya, manakala anda tidak mampu mengambil hati ayah kandung. Sebab biar bagaimana pun, hak dan wewenang ayah kandung itu mutlak dibenarkan dalam syariah Islam.”
Itu menurut saya sungguh luar biasa dimana di paragraf berikutnya sang ustadz menambahkan dengan umpama “Kalau seorang wanita datang dengan calon suami ideal pilihannya, tapi sang ayah masih menggeleng, jelas sudah siapa yang menang. Yang menang tentu saja ayah, meski si gadis telah didukung oleh 1.000 ustadz atau ustadzah kondang sekalipun”.
Mungkin cukup 3 paragraf dari solusi itu saja yang anda baca dari jawaban ustadz tersebut dan saya pun tidak akan mengaitkannya dengan film AAC yang pro kontra masalah nikah seorang Fahri dengan Maria yang tinggal dalam satu dan bla bla seterusnya.
Sedikit pemikiran dari saya dalam jawaban tersebut adalah kembali merevisi atau mengingat akan kehidupan para wanita sekarang terlebih di jaman yang serba glamor dan metropolitan apalagi kehidupan di Jakarta.
Walaupun saya tidak pernah tahu akan kehidupan hakiki wanita dalam sehari-hari baik tingkah dan sikapnya, sebenarnya saya masih bisa menilai keluarga saya sendiri dimana saya mempunyai dua orang kakak perempuan yang setiap saat bisa saling berbagi dan bercerita.
Kenapa sih dalam jawaban tersebut diatas sang ustadz mengumpamakan dengan sebuah tingkatan paling tinggi (1000 ustadz/ustadzah), memang masalah preogratif seorang Ayah kecuali jika seorang Ayah mendapat ilham yang lain dan itu lain cerita. Tapi tahukah kita saat ini bagaimana seorang wanita atau para gadis berlaku terhadap Ayahnya sendiri, luar biasa macam-macam. Dalam hal positif tentunya, banyak para gadis yang lupa akan kedekatan mereka dengan ayahnya ataupun bisa jadi sebaliknya.
Saya menilai hal ini adalah sebuah penurunan drastis, dimana ketika dulu sebut saja masa-masa muda para orang tua kita. Hormat seorang anak kepada orang tuanya sungguh bisa diacungkan jempol baik itu laki-laki maupun wanita. Namun kenyataannya sekarang bisa anda nilai sendiri, betapa arus zaman membawa kita sering melupakannya akan tatanan hidup yang harmonis. Betapa pesat budaya luar (westernisasi) masuk ke wilayah barat khususnya Indonesia membawa perubahan besar.
Hal yang paling kecil adalah pergaulan, mode serta sikap gaul adalah incaran budaya luar. Entah kenapa juga Indonesia yang masih mayoritas muslim menjadi sasaran empuk bagi korban mode dan segala macamnya terlebih bagi para ABG dan juga mahasiswa-mahasiswi.
Hal yang paling gampang bisa diibaratkan kita lupa akan Allah diwaktu kita sedang menikmati kesenangan atau kemudahan, namun sebaliknya ketika kita jatuh ke titik rendah (kesusahan) kita akan memohon dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memohon sesuatu kembali seperti semula. Begitu juga dengan orang tua kita, yang kadang-kadang kita lupa dengan pengorbanannya dari waktu kita masih kecil dulu hingga sampai dewasa seperti ini.
Bisa anda renungkan, betapa banyak pengorbanan yang telah kita berikan kepada mereka hingga mereka masih sempat bisa merasakannya sampai saat ini, walaupun kita akui tidak ada pengorbanan yang bisa kita balas jasanya 100 persen. Melainkan doa kita sebagai seorang anak yang shaleh kepada kedua ibu bapak kita dan kadang-kadang itu pun kita masih sering lupa untuk berdoa kepada keduanya.
Kenapa sih, orang tua menjadi sesuatu yang sangat dihormarti dan harus dipatuhi? anda mungkin lebih tahu dari pada saya. Bahkan dalam hadist pun telah diungkapkan “Dimana ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan juga murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua”.
Betapa besar akan hal tersebut diatas telah kita lakukan, terlebih bagi seorang wanita yang benar-benar dekat dengan Ayahnya. Karena ini menyangkut masa depan mereka, namun hal tersebut tidak ada bagi seorang lelaki dimana dia bisa menjadi wali atas dirinya. Terlebih dari itu pun restu akan orang tua juga sangat mulia.
Semoga hal ini menjadi refleksi bagi kita bersama, terlebih buat kalian wahai para wanita muslimah. Fitrah mu menjadi sesuatu yang sangat berhagai nilainya dengan mendekatkan diri dengan orang tua terlebih bagi seorang Ayah yang telah menafkahi kita sampai menjadi manusia sehat dan kuat seperti ini.
Filed under: Agama, Kampus, Renungan, Santai | Tagged: AAC, ABG, Ahmad Sarwat, Allah SWT, Gadis, Hanung, Orang Tua, Preogratif, Wanita
















menarik. tapi ada beberapa poin yang jadi perhatian, sih.
tapi jangan lupa, bahwa ada juga ‘ayah’ dengan berbagai macam jenisnya, dari yang baik-dan-beriman luar biasa sampai brengsek-dan-bangsat luar biasa.
masihkah seorang anak gadis harus menuruti semua permintaan dan ucapan ayah (walaupun kandung!), sekalipun untuk keadaan yang tidak nyaman (baca: secara sial punya ayah yang ‘nggak beres’)? walaupun ya, secara nasab memang seorang ayah tidak akan tergantikan; ketika menikah pun seorang ayah akan menjadi wali untuk anak perempuannya.
btw, anak-anak (khususnya muslim) di Indonesia masih banyak kok yang dekat dengan orangtua. AFAIK, sekarang ini masih umum bahwa anak yang sudah menikah tinggal di dekat (atau malah bersama di) rumah orangtua, dengan alasan untuk memperhatikan/merawat orangtua. memang nggak mungkin sama dibanding dulu, tapi mungkin agak gegabah juga kalau langsung dituding sebagai ‘dekadensi’ atau ‘degradasi’.
IMO, seperti itu. saya nggak tahu banyak soal kehidupan generasi sebelum saya dulu… jadi soal ini masih terbuka, sih.
[agakOOT]
walaupun bisa juga, gara-gara baca novel (atau nonton) AAC, poligami tiba-tiba jadi seolah dapat ‘pembenaran’-nya sendiri. nah lho!
[/agakOOT]
~cheers
Ibu bisa terjadi, tetapi tergantung ilmu dan pemahaman yang kita miliki yang menilainya. Kalau saya melihatnya, perfilman indonesia mulai memperkenalkan ajaran islam ke dalam film, walau yang diangkkat hanya segelintir aja (sangat kecil). Toh itu menjadi tau dari orang yang belum tahu, bahwa pergaulani dalam islam itu seperti itu.
@yud1
Bener apa yang sdr utarakan disini tidak selalu Ayah menjadi “orang no 1″ dalam keluarga. Karena ada waktu kita harus membangkan dari keluarga (ortu) ketika mereka tidak taat kepada Allah malah parahkan telah menyuruhkita kita keluar dari ajaran/millah agama ini.
Namun, hal yang ingin saya sampaikan disini adalah sebuah makna yang mengandung arti positif, dimana ayah aka ortu menjadi sosok yang penuh tanggung jawab terhadap keluarga, tetapi itulah tadi anak yang seharusnya berbakti namun jauh dari nilai-nilai itu sendiri.
@Supono
Memang mengangkat film yang Islami ke publik tidak segampang yang kita pikirkan, hanung yang mencoba itu tentu dengan segenap jerih payah belum bisa memberikan yang maksimal (pengakuan hanung).
Nah, disini lah penjiwaan karakteristik yang harus benar-benar dimiliki oleh seorang sutradara thd kru-nya maupun dari atasannya si produser. Saya kira masih banyak sutradara di Indonesia untuk bergerak dalam konteks perfilm Islami harus banyak belajar tentang Islam (bukan tahu Islam saja) melainkan hakikat dari seni dari Islam itu sendiri.
“Ayah yang bijak akan selalu mendukung bagaimana yang terbaik menurut sang anaknya”.
He..he…
@Ozan
Maka jadilah Ayah yang baik dan jadilah anak yang penurut pula sesuai dengan cita-cita keluarga, SAMARA (Sakinah Mawaddah Warahmah)
‘SAMARA’. Semoga….
Seburuk dan sejahat apapun seorang ayah dia tetap lah orang tua yang harus kita hormati, dan kita di wajibkan berbakti kepada kedua mereka …
di dalam surah Al-isra’ ayat 23-24 Allah Berfirman :
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya ucapan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”(Al Isra’ : 23-24)
{[ Supono, on March 23rd, 2008 at 12:21 PM Said:
“walaupun bisa juga, gara-gara baca novel (atau nonton) AC, poligami tiba-tiba jadi seolah dapat ‘pembenaran’-nya sendiri. nah lho!”' ]}
Poligami telah dapat ‘pembenaran’-nya semenjak Rasulullah SAW menerima Wahyu dari Allah mengenai boleh menikah lebih dari satu yaitu 2,3,4 …
( baca surat Annisa-ayat 3 ).
:: hasbi
ah, yang nulis soal itu saya, sebenarnya. bukan mas Supono.
lha iya. tapi jaman sekarang, ada berapa banyak sih perempuan yang dengan senang hati bersedia dimadu oleh suaminya?
nanti jangan-jangan kita bisa mendengar seorang suami (muslim tentunya) yang bilang begini ke istrinya.
nah lho!
>>>yud1
Sebenarnya itu bukan lagi pembenaran melainkan sudah ketetapan wahyu seperti yang dikatakan oleh bung Hasbi. Memang disitu dijelaskan, bahwa boleh menikah lebih dari satu.
Yang jelas kita harus pahami dan kaji lebih dalam Surat An Nisaa ayat 3 dimana Allah meneruskan-Nya dengan …. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
Yang jelas kaum wanita disini sangat dijunjung tinggi, bukan seenaknya saja para lelaki untuk memadunya. Maka kita sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga banyak-banyaklah untuk bertaqarrub dengan Allah SWT.
NB: tidak ada hubungan dengan AAC apalagi Novel.
Aulia, on March 25th, 2008 at 7:19 PM Said:
Yang jelas kaum wanita disini sangat dijunjung tinggi, bukan seenaknya saja para lelaki untuk memadunya. Maka kita sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga banyak-banyaklah untuk bertaqarrub dengan Allah SWT. “”
Bukan niat saya ingin merendah kan para kaum Wanita, sama-sama telah kita ketahui bahwa Rasulullah SAW telah mengangkat derajat martabat wanita dalam Sabdanya ;
” Al-jannatu tahta Aqdamil Ummahaati ”
yang artinya : “Syurga itu berada dibawah telapak kaki ibu “.
hal itu tentu sangat jelas bagi kita bahwa wanita adalah bukan sebuah permainan yang bisa seenak nya saja para kaum lelaki.
Akan tetapi dalam hal menikah lebih dari 1 bahkan sampai 4 itu adalah HAK bagi kita kaum lelaki, dengan syarat dan ketentuan-ketentuan yang Tertera di dalam Al-Quran ;
” … Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” ( annisa - 3 )
Note:
Menurut saya Berlaku adil untuk satu orang istri sahaja sangan susah bagi kita, apalagi untuk dua atau 3 istri .. ini adalah petaka bagi kita kaum lelaki, maka jangan lah sekali2 kalian mencoba hal yang telah kalian ketahuin akan petaka yang menimpamu.
Seorang gadis harus mentaati hak waris yang sudah tercantum Al-Qur’an dan bila menolak tidak akan memperoleh pahala dari Allah
harusnya poligami di sahkan saja, kan asyikkk
yuuuuuk