Ayat-Ayat Cinta The Movie
Ternyata kalau anda ingin menyaksikan AAC pada tanggal 28 Februari mendatang, tentu siap-siap dengan keharuan atau mungkin akan berpendapat jauh dari adaptasi film dengan cerita novel sebenarnya (itu adalah hak anda). Namun, ini sedikit “bocoran” dimana AAC yang sebenarnya banyak kehilangan sketsa-sketsa seru yang mungkin sedikit terasa canggung. Ini beberapa snapshot yang sudah berhasil ditemukan dalam film ini, namun sayang versi yang saya nonton ini masih belum tahap pengerjaan akhir film (directory version) ini.

Saat pertemuan (ta’aruf) Fahri dan Aisyah begitu cepat terjadi, tanpa ada basa-basi yang panjang. Dimana dari cerita sebelumnya padahal Fahri saat-saat setelah melakukan pelamaran dengan Aisha mendapat berita dari pamannya Nurul yang ingin menikah dengan dia, namun sayang berita datang belakangan. Sedangkan dicerita ini sketsa permintaan paman nurul berlangsung setelah Fahri berumah tangga.

Pernikahan Fahri dengan Aisha berlangsung cepat setelah hari pertama lamaran (ta’aruf) diterima. Sedikit janggal juga.

Kalau yang ini no comment lah.

Nah, ini momen kedua Fahri saat melihat wajah istrinya Aisha. Luar biasa kaget dan gugubnya. Ini sih biasa. Inilah penampakan wajah asli Aisha yang dibalik cadar itu, memang gak begitu cocok. Kata-kata orang yang lihat trailernya sih agak sedikit cadas dari kehidupan pribadinya. What ever lah….

Maria yang sedang berada di tempat neneknya merasa gelisah gundah gulana, tapi sayang disini Fahri tidak menelpon Maria untuk memberi tahu hari bahagianya itu.

Persidangan terakhir Fahri di penjara, saat Noura mengakui kejahatan fitnahnya di hadapan hakim, seribu keibaan disini sudah agak sedikit melemahkan penonton tentunya.

Dan yang ini tentu yang tidak kalah seru diakhir ending film ini yakni apalagi kalau bukan Fahri harus berpoligami demi hidupnya seorang Maria dalam kesaksian juru kunci di pengadilannya nanti.

Keanehan dalam berpoligami, satu rumah dengan dua istri sungguh membuat Fahri bingung untuk berlaku adil. Anda tentu akan berkomen, silakan……… udah capek mostingnya, yang penting tunggu aja tanggal mainnya.
Ada beberapa hal lagi yang mungkin saat terasa film ini lebih cepat jatuh dalam dunia “kasih sayang”, misalnya saja pas awal-awal film ini berjalan suasana pandangan pertama Fahri pada Aisha saat bertemu di metro sudah mencerminnya tingkah “kejodohannya”, lucu sih. Tapi apa mau dikata film ini memang sarat dalam dunia “percintaan”. Jadi belum apa sudah ketebak, walaupun tanpa membaca novelnya lebih dulu.
NB: Cerita ini tidak maksud mengkritisi para sutradara lo, dan juga bukan gara-gara isunya film ini keluar hari ini. Terlebih ini juga tidak ngarus dengan tanggal hari ini. Jadi jangan berpikir apa-apa, karena saja juga semalam baru habis “watching” AAC ini juga versi sutradara.
Filed under: Ekstrakurikuler, Santai | Tagged: AAC, Ayat-ayat Cinta, Carrisa Putri, Fedi Nuril, Habiburrahman El Shirazy, Melanie Putri, Movie, Oka Antara, Poligami, Rianti Cartwright, Rilis, Sazkia Mecca, Surya Saputra
















ahh…. filmnya emang gak bagus tuh aul. jauh banget dari harapan. banyak nilai2 islam nya yang diilangin
Bener Mal. “Indahnya bayangan tak seindah kenyataan”. Padahal udah naruh banyak harapan di film ini. Tapi masih mau nonton ga?
Duh, agak bimbang juga setelah melihat (membaca) susahnya hanung bramantyo dalam menyutradari film ni.
Memang sungguh terharu dan memberikan sejuta harapan bahwa film ini akan islami sekali…
Namun apa daya, setelah gw nonton director’s versionnya ternyata AAC the Movie AAC Novel bahkan sangat jauh…
Dan masa, di film islami yang memang membolehkan poligami tapi ada hidup satu atap antara istri dan madunya… GA DA SAMA SEKALI DI ISLAM Mengenai hal tersebut……
Intinya, ni film jauh banget dari novelnya dan sama sekali tidak ada pembelajaran keislaman disini, karena beberapa scene mengenai pembelajaran tidak dituntaskan disini … contoh : Saat Fahri memberikan jawaban ke Alicia mengenai nusyuz (istri yang dipukul dengan sapu lidi) dia tidak menjawab dengan tuntas….
gw salut banget ke niat mas hanung untuk berdakwah, tapi mungkin dari producer ada yang harus di pangkas…. ah apa daya…. di INDONESIA memang UANG yang berkuasa………
Salut buat mas hanung, tapi sorry mas ada satu pertanyaan : Kok Fahri tidak menjaga pandangan ya???
Maaf jika kata-kataku menyinggung….
saya setuju dengan esa,mang sich filmnya gak sesuai banget dengan novelnya.Didalam cerita Fahri selaluu menjaga pandanganya dengan perempuan……
Ya mudah-mudahan aja film ini gak merusak cerita yang sebenarnya.
filmnya bloody. hanung telah membunuh ayat-ayat cinta. ngecewain.
eh ralat. si punjabi sih yang paling nyebelin.
Buat anda yang kecewa karena kisah filmnya banyak yang tidak sesuai dengan novelnya. Silahkan buka blog mas hanung bramantyo di http://hanungbramantyo.multiply.com
Di sana mas hanung bramantyo menuturkan kisah di balik layar AAC yang jujur saja membuat saya miris. Saya pun sebenarnya seperti sebagian dari anda yang berpendapat film ini sangat jauh dari novelnya dan membuat saya little disappointed, namun setelah baca penuturan mas hanung bramantyo di blognya saya justru salut dengan usaha beliau
Pokok jih mantap.
Kita tunggu serial berikutnya pilem yg diangkat dari buku “most Powerfull Indonesian Books” LANSKAR PELANGI.
Screenshot No 4 yang paleng ditunggu watee ta nonton…
Meuhayak jantong watee dibuka cadar. Hambooo…
Hahahaha…..
@ozank
hahaha…pane nyan cadas that inoeng jih…hana that cocok….
langsoeng dikheun MTV
@Aulia
hai bang, kirem alofiyu dari lon suat keu awak meu-en film nyan beh, bek tuwo!
udah nonton filmnya..emang beda sama novelnya…ada adegan yang ditambahin malah…kayak sinetron aja…
tapi bukan berarti filmnya ga bagus…lumayanlah…tapi kurang gimana…gitu.ga sreg,ga mengesankan…ga ngena di hati..
filmnya datar. awal nonton mungkin kurang ngerti ,karena adegannya loncat loncat. tapi bagian akhir dijelasin kok.
beberapa bagian di novel yang sangat menyentuh dan mendebarkan, di filmnya jadi datar dan biasa aja,misalnya waktu fahri dan aisyah taaruf,momennya singkat banget,padahal di novelnya kita dibikin berdebar dan terkagum kagum. ada juga beberapa bagian yang melenceng dari novelnya, seperti anggota keluarga maria yang seharusnya ada ayah,ibu dan adik malah cuma ada ibunya saja.
trus aku agak kecewa dengan karakter aisyah di film ini. aisyah yang seharusnya lembut, ayu, pokoknya sosok muslimah ideal kurang kelihatan disini. Rianti memang cantik, sangat cantik, tapi kenapa karakter aisyah tidak kelihatan?aisyah di filmnya suka cemburu, curigaan..dll.
aku ga bermaksud tidak menghargai kerja keras sutradara dan kru film yang sudah susah payah, bekerja keras mengangkat film ini, tapi tidak bisa dipungkiri filmnya mengecewakan. maaf ya mas hanung…aku cuma mau menyampaikan pendapatku aja…
peace…^^
Saya sih ngga heran mas…
Mas Habib dah bercerita banyak waktu datang ke Cairo..
Bisa disimak di web saya..atau di youtube (Film Ayat Ayat Cinta dgn Kang Abik)
saya dah upload sampai 5 seri..
Mudah2an manfaat…
Fachri menjadi down to earth…. realistis.
Membaca novel Ayat-Ayat Cinta dan menilai tokoh Fachri membuat ana seakan memandang tinggi ke langit…. apakah malaikat turun ke bumi?
Memang kang Abik beralasan, realitas yang semakin jauh dari “idealitas” membuat kita canggung menerima “kesempurnaan” tokoh Fachri di bukunya. Padahal, bila Fachri memang “sesempurna” itu, maka ia tidak akan menunggu lama untuk menyambut pernyataan cinta Noura dengan menikahinya, bukannya malah menasehati Noura…. Noura justru menjadi korban kehidupan dalam bukunya, dan Fachri setengah setengah dalam menolong Noura… pertolongan/pekerjaan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya dari tidak sama sekali.
Dalam Film, karakter Fachri menjadi sangat manusiawi, tak lepas dari “ketergodaan” dan kekhilafan… sehingga sangat wajar bila kemudian ia “lalai” dalam menuntaskan pertolongannya pada Noura.
Film juga melepaskan keruwetan persoalan yang terbelenggu penjara dan ruang peradilan pada bukunya. Sesuai judulnya, film menggambarkan dengan jelas betapa rumitnya memanajemenin Cinta….
Yang menarik justru, Hanung berhasil memberikan gambaran netral tentang kehidupan berpoligami, menjadikannya sebagai opsi terbuka yang “monggo” untuk dijalani dengan segala pernak-pernik kelebihan dan kekurangannya….
Ana kira tidak berlebihan kalau menyatakan acungan 2 jempol buat Mas Hanung, karena ini film indonesia terbaik yang pernah ana saksikan. Satu dari best of seven movies sepanjang hidup ana.
“Fachri…. tidur dimana malam ini, sayang?”……
“Dengan Maria kah?”
“Dengan Aisha kah?”
…
…
…
wah…. Fachri ketiduran sehabis online
jujur aja.. kecewa sesudah lihat film ini… jauh banget dari novel.. saya gk terlalu permasalahkan soal jadi realistisnya fachri walaupun orang yg cukup idealis seperti di novelnya pun masih bisa ditemui walaupun jarang ( that’s real )… yang jadi masalah itu terlalu banyak adegan penting yang hilang.. momen2 penuh emosi, nasihat dll seperti saat kesaksian maria, meninggalnya maria ataupun yang simpel saat di atas metro pada perjumpaan pertama dengan aisha itu jauh dari novel dan tidak ada pesan berarti.. masak di novel yg jelas-jelas digambarkan orang mesir itu takwa, walau mudah marah tapi mudah menerima kebeneran pula justru di film jadi sangat keras dan main pukul… >.<
btw, saya sudah liat filmnya ( bioskop maupun bajakan ) .. dan ada sedikit review juga…
http://www.tedirachmadi.web.id/2008/02/26/ayat-ayat-cinta-antara-novel-dan-film/
Sebuah film yang hebat……
Pada saat saya selesai membaca novel ayat-ayat cinta, saya lansung menggerutu dan kesal karena menurut saya novel itu sangat status quo dan tidak menjawab persoalan, malah menghindari persoalan. Berdasarkan kesimpulan pribadi, Cerita Novel AAC mungkin equal dengan pertanyaan yang diajukan kepada Kang Jalal “Mana yang lebih baik Orang yang rajin Sholat tapi akhlaknya kurang baik dengan orang yang tidak Sholat tapi baik akhlaknya”. Para ulama mainstream akan bilang yang lebih baik adalah yang yang rajin Sholatnya dan baik akhlaknya. Tapi itu tidak menyelesaikan persoalan karena tidak menyinggung inti pertanyaan.
Sama dengan novel ayat-ayat cinta yang mengusung isu kontroversial dalam dunia islam seperti persoalan Poligami dan Menikah dengan non muslim. Persoalan ini di hindari oleh pengarangnya untuk dijawab.
Tapi Hanung Bramantyo mengemas film ayat ayat cinta dengan kesimpulan yang sangat substansial dengan menjawab isu2 kontroversial ini dengan kesimpulan yang sangat indah sbb (kesimpulan sendiri) :
1. Islam tidak berwajah seram seperti yang digambarkan oleh para terorist tapi berwajah lembut dan penuh kedamaian.
2. Islam Menggambarkan tentang Cinta yang diwujudkan dalam hubungan sosial bukan sebatas kata2.
3. Plogami harus dihindari karena bisa membunuh (seperti kisah kematian Maria yang cantik meninggal karena tekanan akibat harus berbagi suami) atau secara halus film ini menggambarkan peristiwa poligami direstui hanya karena untuk menyelamatkan nyawa manusia. bagaimana dengan halalnya makanan haram dimakan untuk menyelamatkan nyawa?
4. Fahri yang Sholeh dan sekolah di universitas islam terkenal menikah dengan kristen kopkit, meskipun diperhalus dengan ucapan Sahadat setelah akad nikah, tapi toh sampai meninggal Maria tidak menghapus tanda salib ditangannya.
Karena orang hebat adalah orang yang menjemput perubahan bukan berubah setelah perubahan mendatanginya. “film ayat ayat cinta adalah film yang menjemput perubahan”
Wassalam
amazing,…!! saya sangat setuju dengan bang didi,tolong hargai karya ini. bagaimanapun juga, butuh kerja keras untuk membuat film ini. meringkas novel setebal itu menjadi film durasi 2 jam bukanlah hal mudah, jadi wajar kalo ada beberapa yang beda. pemilihan india sebagai tempat syuting juga bukan karena sang produser ingin pulang kampung.birokrasi yang ruwet di tambah harga yang gak masuk akal (ditawari agen disana paket 5 hari syuting seharga 3 milyar) menjadikan india menjadi tempat yang lebih cocok untuk menggantikan mesir. belum lagi film ini udah keluar versi bajakannya, kasihan kan sutradaranya. Mari kita lihat sisi positifnya, masih bagus ada anak bangsa yang mau membuat film bertema percintaan yang islami. mengingat film indonesia didominasi film film horor dan film remaja yang gak mendidik, sudah saatnya kita memberikan apresiasi bukannya mencaci maki .
sdiihh nii .
mu nntn film na tapi tikedna abz trz
lakuu bett
Ass mas Aul. Jujur aza nih, sy dh nonton film ini 2 kali dlm sehari lho. Sy g akn prnh bosen deh. Tp skli lg sy mw jujur. Yg sy tangkap dr film ini adalah sebuah pemaksaan. Dmn sptny mas Hanung seolah memaksakan seluruh isi novel itu bs masuk kedlm sebuah film yg hy brdurasi 2jm sj. Jd hasilnya spt main kejar2an. Film ini seolah mmbrkn kita Byk jwbn yg tdk ada pertanyaannya. Klw dya nalar si penonton krg bgs, mk siapkan sj prtyaan2 pd org yg ada dsblh anda ktk menonton. Cb mas Hanung jgn hy menyabet “cinta”nya sj, krn hrs kita ingat, sblm kt “cinta”, kata “Ayat-Ayat” telah lebih dulu mengawali dan hrsnya itulah yang mesti diolah secara matang. Tp biar gmnpun, aku senang dg adanya film ini. Aku ingin nonton la nih….Wass. SARAH
disini bnyk yg blg filmny ngga sbagus novelny,,,,
mnurut w ngga bgd…..
wktu w nonoton,,,
d bintaro 21 nyiapin 2 studio bwat ni film…..
10 kali d puter dlm 1 hari,,,
n cuma btuh wkatu 3 jam dr bioskop d buka…
ni tiket SOLD OUT…..
mnurut w ni film adlh film terbgus spnjang msa
biarpun bnyk2 adegan2 yg gak diceritain persis kya novelny…
ni film pntes bwat dpt 1000000 pnghargaan…
tEsti bwat ni film…
1.bagusssss
2.islammmmm
3.sedihhhhhh
4.kereennnnn
5.bingung w mw ngmong pa lg???
sampe saat ini..
belum nonton juga nih..
ikss, pengen
tapi kapan yaks?
ruame bgt dh…
ditunggu dh kasetnya..
hehe…
Ternyata dari hasil wawancara singkat semalam di Topik Malam ANTV bersama Hanung, AAC sudah mencapai angka 1 juta penonton dalam 8 hari penayangan di bioskop-bioskop. Luar Biasa
jangan pernah membandingkan antara novel dan film ayat-ayat cinta coz mereka punya porsinya masing2. tapi jujur saya lebih suka filmnya, sosok fahri dan aisha lebih kelihatan ‘manusiawi’ di bandingkan di dalam novel (di gambarkan terlalu sempurna, jauh dari realitas). adegan aisha yang mencemburui maria pun saya kira sangatlah waja (yang tidak tergambar di novel, istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya dekat dengan wanita lain, sosok aisha di dalam novel saya kira terlalu sempurna). pemanjangan cerita saya kira juga sangat bagus, membiarkan penonton melihat realitas kehidupan berpoligami.
Assalamualaikum, mas hanung apa kbr??? 2 kali saya nonton film AAC, tetep aja nangis, tetep aja penuh (padahal dah seminggu saya nonton) dan tetep aja hebat,, film hebat setelah AADC yang mengguncang indonesia pertama kali setelah perfilm-an indonesia mati suri… ini membuktikan bahwa nuansa islami memang di minati oleh masyarakat, karena nuansa islami tak jauh dari hati dan perasaan. untuk itu, saya berharap untuk mas hanung tetep konsisten dan tetep mau untuk menampilkan film yang berkualitas dan mengangkat moral manusia dari segi akhlaq. oia kalo boleh saran juga, tolong untuk memperkecil hal2 yang bersifat ambiguitas, karena bisa jadi makna yang di tonton oleh publik berbeda dengan apa yang kita inginkan… tapi tetep saya acungkan jempol, karena secara tidak langsung, mas bisa merubah pemikiran orang untuk mengajak orang lebih mengenal islam dengan film nya… teruskan mas, qta dukung… oia ada 1 novel lagi yang bagus untuk masukan mas, coba baca “diorama sepasang Al-Banna” deh mas.
Seandainya dijaman sekarang seperti gambaran dalam film Ayat2 cinta, alangkah indahnya dunia ini.. “Tidak bersentuhan dengan lawan jenis” sebelum menikah, ga akan ada lagi orang yang menikah karena M.B.A…… hehehehehehe
Hmmm……banyak yang kecewa ketika menonton film ini, karena banyak ketidak sesuai an antara novel dan filmnya…bagi saya , yang sampai 2 kali membaca novelnya jujur mengakui memang novelnya lebih hebat dibanding filmnya…2 kali membaca, 2 kali itu pula saya menangis terharu, tersenyum-senyum membayangkan perasaan fahri yang deg2an ketika ta’aruf dengan aisha dan melihat wajah aisha pertama kalinya, dan membuat saya berucap ” subhanallah…indahnya cinta dan pernikahan yang dilandasi oleh agama yang kuat, pernikahan krn Allah SWT”
tapi…itu semua tidak saya dapatkan ketika menonton filmnya, tidak ada airmata, tidak ada senyum, dan tidak ada ucapan Subhanallah…..tidak ada chemistry antara fachri dan aisha di film itu…aisha tidak menggambarkan sosok istri yang santun, sholehah dan penurut kepada suami…
Namun, usaha mas hanung untuk membuat film ini hidup patut diacungi jempol, latar belakang kota india seolah2 membuat suasana kota mesir yang sebenarnya benar2 ada dan terasa…dan memang tidak mudah untuk memvisualisasikan novel ke dalam bentuk film…apalagi untuk adegan dan cerita yang paling membuat saya menangis, yaitu ketika dalam koma nya maria bermimpi bertemu maryam dan tidak di izinkan masuk surga kecuali mereka pengikut Rasulullah dan berwudhu sambil mengucap dua kalimat syahadat…pasti akan sangat sulit dan kontroversi untuk dapat memvisualisasikan hal tersebut, gambaran surga, wajah maryam, sangat tidak mungkin untuk divisualisasikan…
Overall, salut bwt mas hanung atas usahanya…this is a great indonesian movie ever tough such big different with the book!!! dibanding film2 horor yang ga jelas dan ga mendidik…keep up a good work mas hanung, ditunggu film2 islami selanjutnya..
lumayan,sebuah pencerahan,kekurangan sih biasa namanya juga manusia tul ga`? cuman contoh kecil kenapa koq pas jamuan makan si fahri makan/minum sambil berdiri,indahnya ngasih contoh ke penonton gmn cara makan yg Islami,kalo poligami di film ini sih contoh bagus dalam arti poligami dalam kondisi dlorurot,kan sama si fahri dibilang dia udah ga bisa adil tapi kondisi memaksa, trus buat rianti pengalaman religi yang kebawa dalam keseharian dan yang pingin dilakuin kira2 apa ya?
‘tau deh..aku pusing..baca banyak komentar..
aku belum pernah baca novelnya…..
aku juga bukan penggemar dan pengamat film…
kmrn pertama kali nonton pun dipaksa temenku yg kegilaan film horor…
akirnya liyat ayat-2 cinta…
Ya ampyunnnnn…..gilingan ni pilem apaan..??? kog visualnya lain bangettt….mataku ga berkedip..mengikuti kata demi kata dan kejadian…
Ya ampyunnnn….ni air mata ko ngalir terus di pipi..
nuraniku terdalam tersentuh ttg keindahan cinta karena ALLAH..
selama ini aku mencari cinta, ketika cinta itu datang …..cinta itu harus kutinggalkan ketika ku bersujud..
Subhanallah…Allahu Akbar..
sampai sekarang aku msh bisa menitikkan air mata
ketika ingat pilem itu..
aku ingin lakukan keindahan islam itu….
sekuat mungkin…
Assalamu’alaikum.
Subhanallah…Allahu akbar…
Hanya itu yang bisa aku katakan untuk Film dan Novel Ayat-Ayat Cinta ini.
Sebuah Maha Karya yang benar-benar bisa membuat sadar banyak orang,akan Kebesaran-Nya.
termasuk aku.
Alhamdulillah…
Insya’allah…
Mungkin Kaum Muslimin harus benar-benar tahu apa arti “CINTA” di dalam Islam yang sebenarnya.
Cuma 1,Novel and Movie is different…
So,ngga mungkin kan semua yang ada di Novel bisa ada di Film ini.
Sukses buat Mas Hanung..Tetep bikin Moeslem Movies ya Mas….
SYUKRON.
AAC emang paling different dari film* yang lain
emang AAC pantas bwt ditonton, cause penuh dengan pelajaran n religi bangetz………………
Sooooo, sweeet…………..
sukses yaa bwt semuanya!!!!!!!!!!!!!!!
lain kali buwt film yang lebih baguzz lagie yaaa n berbobot
sumpah AAC KEREN Abizz……….
met iiiiiaaaaa wat smwaaaa……..
filmnya bner2 ajibbbbb……….
g salah tiketnya jdi rebutan semua orang…….
yang ngantri bwd dptin tiketnya ampe 1 mall…..
lebaiiiiiiii…
dah dlu dech byebyebye……..
sukses yach
wah… numpang nimbrung nih….
emang, antara novel dan movie emang beda….
tapi sedikit banyak.. apa yang ditampilin dalam movie, banyak yang bikin cacat pesan2 cerita di novel…
tentang indahnya poligami, Islam, menjaga pandangan,
lebih banyak tentang cintanya daripada pendidikan keislamannya….. jauh beda dengan yang di novel.
lebih lanjut, klik di neilhoja.blogspot.com
belum lagi dari sisi setting mesirnya, yang seolah2 dipaksain, tapi sayang gak kena… beda jauh ama aslinya…. termasuk budaya masyarakat sini…
tapi bagus lah, setidaknya ada usaha dakwah…. banyak yang tercerahkan… bisa jadi karena kebanyakan masyarakat kita belum siap menerima ‘fahri’ malaikat…
jadi salut!! dakwahnya kena ke masyarakat… moga bisa manfaat dan mencerahkan masyarakat kita tentang Islam… semakin mencintainya dan bangga menjadi seorang muslim!!!
“Indonesia dan Malaysia harus dijajah dalam bentuk ekonominya, karena bila Islam di kedua negara ini berkembang, maka akan menjadi Islamic Model yang akan membahayakan Barat.” (Samuel Huntington, The Clash of Civilization)
assalamu’alaikum
haduuhh…saya cukup prihatin dengan kondisi umat islam di indonesia ini!!!
tidak cukupkah diri kalian dengan al-qur’an dan hadits???!!!
coba kalian pikir & renungkan…
lebih mudah mana???
“mengeluarkan uang untuk infaq di masjid dan di berikan kepada fakir miskin atau mengeluarkan uang untuk membeli tiket nonton bioskop???!!!”
coba kita asumsikan ya!!!
1 tiket bioskop = Rp 15.000
yang sudah nonton ayat2 cinta = -+ 2 juta penonton
jadi!!! Rp 15.000 X 2juta = 30 milyard!!!
“WHAT A MUCH MONEY!!!”
banyak yang bisa kita lakukan dengan uang segitu!!!bisa buat bikin sekolah bagi masyarakat kurang mampu!!!bisa buat mengurangi angka kemiskinan!!!bisa buat bikin rumah allah yang cukup megah!!!dan bisa untuk membuat hal-hal berguna lainnya…
tapi anehnya kenapa kita malah memberikan uang itu untuk hal yang ngga bermanfaat!!!??? kalaupun bermanfaat,mungkin hayna untuk kesenangan kalian di dunia!!!tapi nanti di akhirat,uang 15 ribu itu tak akan jadi pemberat amal bagi kalian!!!
kalian lebih memilih memberikan uang kalian ke loket tiket bioskop dari pada ke loket syurga-nya Allah SWT!!!
Astaghfirullahaladzim!!!
yaaa sudah lah, toh uang yang sudah kalian berikan ke loket tiket bioskop itu tak akan bisa kembali!!!
tapi cobalah,mulai sekarang kalian berfikir dahulu sebelum mengeluarkan uang, gunakan uang kita sebijaksana mungkin!!!
maaf kalau ada kata-kata yang salah
wassalamu’alaikum
[...] Posts Ayat-Ayat Cinta The MovieMalu Hati Bukan PemaluPerang Dunia Maya: Indonesia vs MalaysiaAbout MePerang Tarif Never [...]
@yogi
analisa yang bijak….
namun perlu diingat pula.. tak semua yang kelihatan jelek itu jelek.
lho, siapa tahu, kalau ada yang nonton AAC itu kemudian dia dapet hidayah.. gimana coba? mungkin saja, itu salah satu jalan buat dia agar menemukan Islam kembali… setelah sekian abad dicekoki budaya Barat???
so, berlakulah kaidah ushul fiqh, “Al-ashlu fil asyya… al ibahah,…”
boleh2 aja kok, karena segala sesuatu asalnya mubah. namun, kalau sambil nonton AAC kok disampingnya ada pacar yang non muhrim.. ya jadi haram… ya tho?
jadi yang penting niatnya dan jalan menuju ke sana. biarpun kita infaq 50 juta, tapi ngasihnya sambil ngelempar dan gak ikhlas.. ya sama saja.
tapi ana setuju kok dengan pendapat mas Yogi. cuman jangan terlalu digeneralisir, oks?
Insya Allah kalau niat kita untuk kebaikan… Allah gak akan pernah menyia-nyiakan usaha hambanya itu.
Mending nonton dulu filmnya baru baca novelnya… biar ga kecewa.. jangan baca dulu novelnya baru nonton filmnya.. btw kata2 yang paling menyentuh di film itu : “sabar dan ikhlas itu islam…”
Subhanallah, ini adalah film terbaik yang pernah saya tonton. sampai 2 kali ntn di bioskop. Indahnya kalau dizaman sekarang ini kita kembali ke jalur islam bukan ke jalur kebarat2an….
thanks bgt buat yang membuat film ini menjadi ada.
film aac bagus juga meskipun novelnya kental akan ekspresi narsisme dan egomaniacal dari penulisnya yang dikemas dalam eksibisme kesalehan dan kealiman. Menurut gua cerita di novel aac merupakan dakwah islami sekaligus keinginan bawah sadar dari penulisnya untuk dipuja-puja. digila-gilai , dipuja2kaum wanita. Sebuah obsesi yang tidak mencapai kenyataan, akhirnya diproyeksikan dalam bentuk novel. Mungkin penulisnya pengen banget jadi nabi Yusuf. Dipenjara, difitnah, jago ngaji,ganteng, sholeh, alim dan dikejar-kejar cewe-cewe. Mantaaap hehehe
AAC emang merupakan sebuah fenomena baru yang timbul di bangsa kita. aq sadar bahwa in bukan persoalan islam or non nya aj yang membikin fenomena di jati diri bangsa ini. krna kta tahu klo film ini adalah sesuai dengan jati diri kita..
teringat dengan film AADC yang juga sebuah film yang membumi dengan anak bangsa ini sehingga mendapat respon yang besar dari masarakat tanah air ini.
dari sini kita tahu bahwa selama ini film2 yg beredar di negara ini tidak memenuhi selera kebutuhan masyarakat Indonesia. tentunya kita tahu yang mereka ikuti adalah trend atau selera dunia internasional. hal ini bisa terjadi sebab katanya selera anak bangsa ini adalah selera tradisional atau KAMPUNGAN bagi oarang asing..!!!
Wassalam… dari Navo d Riau
navo_lino@yahoo.comEmail telah dilindungi dari Spam Bots, Anda harus mengaktifkan Java untuk dapat melihatnya
http://www.navopoenya.blogspot.com
menanggapi tulisan:
ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi.(menit 17, 37, 57)coba cek di film yahudi karya sutradara zion steven spielberg :schindler list. original soundtrack schindler list sama dengan yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler’s list music”. musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak perlman . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???
tanggapan saya:
benar zabogar, kalau kita perhatikan dengan seksama ada musik yahudi di film itu. saya udah cek di youtube. dan saya sudah nonton film schindler list dengan lengkap.film itu sangat jewish sekali. ada kesamaan dalam ilustrasi musiknya.kalau film aac sampai diketahui orang2 jewish, mereka pasti sangat bangga, betapa film islam yang ditonton oleh 3 juta (konon) orang menggunakan musik spiritual mereka.
kalo memang harus ada plagiat musik dalam film itu, kenapa yang dipilih lagu yahudi? kalo memang harus ada lagu yahudi di film itu kenapa harus dipilih lagu SPIRITUAL yahudi? kan banyak musik2 lainnya yang ngga provokatif yang bisa dibajak dan diplagiat. kalo memang harus ada ilustrasi film lain yang disisipi aac kenapa harus film schindler list? ?. pensisipan ilustrasi musik yahudi dalam aac saya yakin bukan unsur ketidaksengajaan. ada hidden massage, ada pesan tersembunyi, ada komunikasi konspiratif.film schindler list memang awan dikalangan masyarakat indonesia, karena film itu memang dilarang oleh MUI dan pemerintah indonesia. tapi dikalangan sineas? film itu bukan sesuatu yang asing.
ASSALAM MUALAIKUM .SAYA BRIYAN ABDUL KADIR , saya sangat salut dan bangga terhadap film ini karena akhirnya ada karya anak bangsa yang kaya gini .Ini merupakan karya yang beda dari karya-karya yang lain .Film ini sangat bagus aku sangat menyukai film ini walupun agak berbeda dengan yang ada di novel tapi aku suka film ini.Dan film ini juga di tonnton oleh bapak susilo bambang yudhoyono dan bapak yusuf kalla.good film ini . dari briyan
yang jelas india-india keparat itu makin kaya aja. dan loe orang islam berbondong-bondong memperkaya punjabi2 sialan itu. bayangkan miliaran rupiah ketangan mereka, coba tuh duit dipake buat fakir miskin, bangun sekolahan, ngemajuin iptek indonesia. loe semua gampang banget dikecoh ama punjabi. cuma ditampilin ayat2 quran,jilbab,bahasa arab loe semua langsung nilai ini film dakwah islam. what a naive!!. sekarang punjabi banyak duit dan siap2 lagi bikin sinetron2 konyol dan idiot.
sampai sekarang Atieq lom liat film ayat-ayat cinta. Bisa nonton di internet gak? klo bisa alamatnya apa? thank’s before……
It’s Really a Nice Movie, i watch it 3 Times, there’s also Russian Subtitle there, it’s so cool
GUE MO CARI TMN 72475293
> RYO
Cari temen buat pa nih….?