Mari ~Berkorup

Mungkin anda sudah tahu siapa Harry Roesli (Alm) sebenarnya, saat itu saya membaca tulisannya kembali yang sudah 4 tahun yang lalu pernah dimuat di harian kompas dalam rubrik “Asal Usul”, nggak tahu kenapa walaupun belum membaca semua dari tulisannya tersebut. Saya terkesan dengan sebuah judul “Potong Bebek, Masak di Koali(Si)”, lalu apa hubungannya dengan judul “Mari …. ” diatas, simak aja deh berikut liputan khususnya. Memang sih tulisannya almarhum penuh dengan kritikan dan irama comot (aneh) begitu lah istilahnya dalam sebuah buku “Republik Funky”. Judul yang aneh diatas juga sebenarnya saya terkesan dan terkesima dengan kasus-kasus yang menimpa Indonesia saat ini, terutama KORUPSI yang kian hari kian jadi bahkan telah mendapat penghargaan urutan/peringkat dimata dunia untuk Indonesia dalam bisnis korup mengkorup.

Tulisan ini bukan maksud saya untuk meneruskan kata comot dari almarhum HR, namun memberikan sebuah inspirasi saja ketika kita percaya terhadap seorang pemimpin baik itu orang yang diwakilin rakyat atau mewakili diri pribadinya berani membohongi dan menindas rakyatnya sendiri. Kasus yang paling dekat saja baru-baru ini terjadi di Aceh, saya lihat contoh di Kota Lhokseumawe sendiri tentang dana RAPBK yang sekian rupiah (bla…$$-RP…bla) hanya untuk kepentingan segelintir saja dan dianggap sah-sah saja. Terus terang itu menjadi hal biasa bagi kita karena berbagai kasus yang ada baik di tingkat negara, propinsi sampai kecamatan sekali pun, hal seperti itu masih ada sampai saat ini bahkan menit ini pun.

da sedikit pesan moral yang saya baca dari “Potong Bebek,…” tersebut diantaranya adalah banyak wakil rakyat kita yang tidak suka berjanji bahkan berhutang, karena bila mereka berhutang tentunya harus berani berjanji, minimal berjanji untuk melunaskan hutangnya. Dari sepenggal kalimat itulah, kita sebagai rakyat bisa menilai seberani apa sih wakil-wakil rakyat (ingat tidak semua lo) kita di bangku empuk itu bisa tidak berhutang tentunya dengan metode lain yakni korupsi, sebab dengan metode ini akan lebih terasa “terhormat” sehingga tanpa ada janji-janji. Nah selain itu makna terakhir dari tulisannya adalah hati, kenapa hati? Karena mereka (ingat tidak semua lo) tidak pernah berjanji dalam hati bahkan saat disumpah pun, dan tentunya hepatitis agak sulit untuk menyerangi para wakil-wakil rakyat tersebut (sekali lagi ingat tidak semua lo). Itulah pesan singkat yang bisa saya tangkap dari ocehan tulisan “Potong Bebek,…” tersebut dan kemungkinan lebih lanjut tentu masih ada karena saya yakin tidak semua yang kita nilai sama seperti orang yang menulis tulisan tersebut.

Jadi sebagai konklusi dari penutup tulisan ini adalah setujukah anda dengan selama ini, gaji anggota wakil rakyat sebegitu besarnya plus fulus-fulus lainnya yang tidak mungkin pernah kurang dari 10 jeti walaupun kiamat nanti, dan kita mesit ingat jelas pekerjaan yang mereka bawa berat yakni memperjuang nasib rakyat di dalam sidang tanpa harus melek sekalipun? Begitukah kenyataanya (ingat tidak semua lo). Dan satu lagi Koali(Si), maka marilah korupsi secara jamaah dan semoga mendapat “pahala” lebih banyak dari sendiri.

One Response to “Mari ~Berkorup”

  1. nyoe…..asoe hampir saban…pue lom na istilah korupsi berjamaah

Leave a Reply